Perkebunan diperluas. Produksi diatur. Rakyat dipaksa bekerja. Kopi mengalir ke kapal-kapal dagang. Dari Jawa menuju Amsterdam. Dari kebun pribumi menuju meja bangsawan Eropa.
Di sinilah ironi itu bermula. Yang menikmati aroma adalah Eropa. Yang menanggung keringat adalah rakyat Jawa.
Tahun 1711 menjadi penanda penting. Ekspor besar kopi Jawa dikirim ke Amsterdam. Pasar Eropa menyambutnya. Kopi Jawa dianggap berkualitas. Aromanya kuat. Rasanya khas. Yang lebih penting lagi: pasokannya stabil.
Ini kunci bisnis sejak dulu sampai sekarang: bukan hanya enak, tetapi tersedia.
Jalur kopi dari Yaman dan Ethiopia sering terganggu. Perjalanan jauh. Konflik. Biaya tinggi. Jawa menawarkan kepastian. VOC menyukainya. Pedagang menyukainya. Konsumen Eropa menyukainya.
Maka, Java menjadi lebih dari nama pulau. Java menjadi rasa. Menjadi aroma. Menjadi pengalaman.
BACA JUGA:KAPPI Perkenalkan Kopi Nusantara di Perayaan Imlek Jakarta untuk Perkuat Akulturasi Budaya
BACA JUGA:Ini Waktu Terbaik Minum Kopi saat Puasa Ramadan agar Tidak Perih di Lambung
Orang-orang di Paris, London, dan Amsterdam menyeruput kopi dari Jawa. Banyak yang mungkin tidak tahu di mana Jawa berada. Tidak tahu siapa yang menanamnya. Tidak tahu bagaimana biji itu dipanen. Tidak tahu ada kerja paksa di balik kenikmatan itu.
Mereka hanya tahu: Java itu kopi. Hebatnya, jejak itu tidak hilang seluruhnya. Bahkan sampai abad digital.
Tahun 1995, Sun Microsystems melahirkan bahasa pemrograman baru. Namanya: Java. Konon, para pengembangnya gemar menulis kode sambil minum kopi. Dalam budaya Amerika, Java sudah lama berarti kopi. Maka dipilihlah nama itu.
Sampai hari ini, jutaan programmer memakai Java. Menulis kode. Membangun aplikasi. Menggerakkan sistem perbankan, kampus, perusahaan, dan dunia digital.
Banyak yang tidak sadar: nama itu berasal dari sebuah pulau di Indonesia. Pulau yang dulu pernah memberi dunia secangkir energi.
Namun sejarah kopi Jawa tidak selalu wangi. Pada akhir abad ke-19, datanglah bencana. Tahun 1876, perkebunan kopi Hindia Belanda dihantam penyakit karat daun kopi. Coffee leaf rust. Penyakit ini merusak arabika di banyak wilayah Asia Tenggara.
Dampaknya besar sekali. Sri Lanka menjadi contoh paling dramatis. Dulu negeri itu penghasil kopi besar. Setelah wabah menghancurkan kebunnya, Sri Lanka beralih ke teh. Sampai hari ini, dunia mengenal Sri Lanka sebagai negeri teh, bukan negeri kopi.
Di Hindia Belanda, pukulannya juga keras. Banyak kebun arabika rusak. Namun tidak semuanya hancur. Kebun di dataran tinggi relatif lebih aman. Suhu yang lebih dingin membantu menahan penyebaran penyakit. Dari situlah pelajaran penting bertahan sampai sekarang: arabika memang lebih cocok di dataran tinggi.