Dalam psikologi lingkungan juga dikenal konsep place attachment: ikatan emosional manusia terhadap tempat. Scannell dan Gifford menjelaskan bahwa keterikatan pada tempat mencakup manusia yang terikat, proses psikologis berupa emosi dan makna, serta tempat fisik atau sosial yang menjadi sumber keterikatan itu.
Itulah sebabnya seseorang dapat merasa sedih ketika kampung masa kecilnya digusur, sawah keluarganya berubah menjadi beton, atau sungai yang dulu jernih menjadi keruh. Tempat bukan hanya ruang, namun tempat juga menyimpan identitas.
Ikatan terhadap tempat juga dapat menggerakkan kepedulian. Orang yang merasa sebuah sungai, taman, atau hutan adalah bagian dari hidupnya akan lebih terdorong menjaganya. Sebaliknya, ketika alam hanya dilihat sebagai komoditas, rasa bersalah saat merusaknya menjadi semakin tipis.
BACA JUGA:Diskusi Pesta Babi di UC Surabaya, Gugah Kepedulian Massal terhadap Ancaman Ekologis di Tanah Papua
BACA JUGA:Pesta Babi dan Nyanyian Sunyi di Universitas Ciputra Surabaya Suguhkan Realita Masyarakat Adat Papua
Konsep itu memang berbicara tentang manusia. Namun, ia membantu manusia berempati kepada satwa. Kalau manusia saja merasa tercerabut ketika rumah dan lingkungannya hilang, bagaimana dengan satwa yang seluruh hidupnya sungguh-sungguh bergantung pada satu habitat? Ia tidak punya pilihan pindah ke kontrakan lain, ke hotel atau apartemen serta tidak bisa membeli rumah baru.
Ia hanya naik ke dahan yang lebih tinggi. Padahal, mungkin tidak ada lagi tempat yang lebih tinggi untuk dituju.
Papua, termasuk Merauke, tidak layak dipandang sebagai hamparan kosong yang baru bermakna setelah diolah manusia. Sebelum alat berat datang, tanah itu sudah menjadi ruang kehidupan.
Sebuah kawasan dapat terlihat kosong dalam gambar udara atau laporan investasi, padahal di dalamnya ada rantai kehidupan yang bekerja diam-diam: pohon yang menjadi tempat berlindung, tanah yang menyimpan air, serta satwa yang menggantungkan hidup padanya.
Kita tentu tidak boleh buru-buru menuduh video tersebut terkait proyek tertentu sebelum ada pemeriksaan resmi. Pembangunan juga tidak mungkin ditolak begitu saja. Papua memerlukan kesejahteraan, akses, pangan, pendidikan, kesehatan, dan kesempatan ekonomi.
Persoalannya bukan memilih antara manusia atau hutan. Persoalannya ialah apakah manusia bersedia membangun tanpa merasa berhak menghapus seluruh kehidupan yang sudah ada lebih dulu.
Pembangunan yang beradab mestinya memiliki jeda. Ada persiapan waktu untuk memeriksa sebelum merobohkan. Ada tenaga yang memahami penyelamatan satwa. Ada pemetaan habitat.
Ada koridor agar satwa dapat berpindah. Ada pengawasan yang bukan hanya memeriksa target kerja, tetapi juga bertanya: apa yang masih hidup di lokasi ini, dan bagaimana menyelamatkannya?
Mungkin semua itu dianggap lambat. Mahal. Merepotkan. Namun, peradaban memang selalu lahir dari kesediaan untuk repot melindungi yang tidak mampu membela diri.
Lebih dari itu, kerusakan lingkungan akhirnya tidak berhenti pada satwa. Psikologi lingkungan mengingatkan bahwa lingkungan yang rusak akan kembali kepada manusia dalam bentuk lain: hilangnya rasa memiliki, kecemasan ekologis, konflik sosial, panas yang meningkat, berkurangnya sumber air, atau masyarakat yang makin asing dengan tanah tempat hidupnya sendiri. Kita tidak pernah benar-benar berada di luar alam.
Video dari Merauke itu menjadi penting karena mengubah persoalan yang jauh menjadi begitu dekat. Deforestasi bukan lagi kata panjang dalam laporan. Kehilangan habitat bukan lagi angka hektare. Semuanya hadir dalam tubuh kecil yang panik, di ujung dahan, ketika mesin besar berada di bawahnya.