Kuncinya ada pada pembagian peran. BGN tetapkan standar gizi, keamanan pangan, dan sistem monitoring. Kampus eksekusi produksi dan inovasi menu. Sekolah dan dinas pendidikan jadi pengawas harian.
Dengan begitu, Kampus SPPG bukan duplikasi. Ia adalah decentralized innovation hub.
Ukur dari Piring Anak, Bukan Logo Lembaga
Pada akhirnya, MBG akan dinilai publik dari satu hal: apakah anak mau makan dan gizinya naik. Bukan dari logo yang tercetak di truk distribusi.
Jika Kampus SPPG bisa menurunkan waste, menaikkan penyerapan pangan lokal, dan melahirkan mahasiswa yang paham gizi terapan, maka ia adalah inovasi.
Jika Kampus SPPG hanya menambah rapat koordinasi dan kompetisi anggaran antar lembaga, maka ia duplikasi.
Pilihan ada di tangan pembuat kebijakan. Beri ruang uji coba, tetapkan metrik evaluasi yang ketat, dan berani tutup model yang tidak jalan. Jangan biarkan ego institusi mengalahkan nasib anak.
Karena di balik perdebatan teknis ini, ada 82 juta piring yang tidak bisa menunggu.
Sebagai pemerhati tugas kita adalah memberikan solusi yang terbaik dan bermanfaat.
*) Dosen/Kepala Program Studi Kepariwisataan-Perhotelan Universitas 45 Surabaya.