Dari Kontrang-kantring Menuju Generasi Bertumbuh
ILUSTRASI Dari Kontrang-kantring Menuju Generasi Bertumbuh.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
PERBINCANGAN mengenai generasi digital dalam beberapa tulisan di Harian Disway (21–25 Juli 2026) menarik perhatian karena sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang perilaku anak muda. Perbincangan tersebut adalah refleksi tentang bagaimana setiap generasi melihat perubahan zaman melalui pengalaman hidup masing-masing.
Istilah ”kontrang-kantring” yang digunakan untuk menggambarkan situasi generasi digital menghadirkan banyak tafsir.
Dalam satu sisi, istilah tersebut menggambarkan kegelisahan: generasi yang tumbuh di tengah banjir informasi, perubahan teknologi yang cepat, dan ketidakpastian masa depan. Namun, di sisi lain, istilah tersebut juga menunjukkan adanya perhatian dan kepedulian generasi sebelumnya terhadap masa depan anak muda.
Saya membaca tulisan-tulisan tersebut bukan sebagai pertentangan antargenerasi, melainkan sebagai dialog panjang tentang bagaimana masyarakat memahami perubahan.
BACA JUGA:Generasi Digital yang Kontrang-kantring
BACA JUGA:Ketika Manusia Menjadi Robot: Meneruskan Pemikiran Suko Widodo tentang Generasi Kontrang-kantring
Suko Widodo, sebagai representasi generasi baby boomer (senior), menghadirkan kecemasan sekaligus kecintaan terhadap generasi digital. Kecemasannya muncul karena melihat perubahan perilaku komunikasi, pola relasi sosial, dan cara generasi muda mengambil keputusan yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Namun, di balik kecemasan itu terdapat perhatian: sebuah keinginan agar generasi baru tidak kehilangan arah di tengah derasnya perubahan.
Sementara itu, Jokhanan dan Gilang, sebagai representasi generasi X dan generasi Y (milenial), mencoba menawarkan jalan tengah. Mereka tidak sepenuhnya melihat generasi digital sebagai persoalan, tetapi juga tidak menutup mata terhadap tantangan yang mereka hadapi.
BACA JUGA:Halusinasi Kompetensi Kaum Kontrang-kantring
BACA JUGA:Berserawung agar Tak Kontrang-kantring
Pendekatan yang ditawarkan adalah pendampingan: generasi muda tetap diberi ruang tumbuh, tetapi membutuhkan bimbingan agar mampu mengelola kebebasan digitalnya.
Di sisi lain, tulisan Gagah Gayuh Aji sebagai representasi generasi Y akhir menghadirkan suara yang lebih kritis. Ia seolah mempertanyakan mengapa generasi muda selalu ditempatkan sebagai kelompok yang harus diarahkan. Baginya, generasi digital perlu diberi kesempatan lebih luas untuk membuktikan kemampuan dan mengambil peran.
Sebagai bagian dari generasi Y, saya cenderung melihat bahwa jalan tengah adalah pilihan yang paling realistis. Generasi muda membutuhkan kebebasan, tetapi kebebasan tanpa pengalaman dapat melahirkan kebingungan. Sebaliknya, pengalaman generasi sebelumnya akan kehilangan relevansi apabila disampaikan dalam bentuk larangan dan penilaian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: