Dari Kontrang-kantring Menuju Generasi Bertumbuh
ILUSTRASI Dari Kontrang-kantring Menuju Generasi Bertumbuh.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Menurut penulis, yang dibutuhkan bukan dominasi satu generasi terhadap generasi lain, melainkan dialog dan kolaborasi.
Perubahan Cara Bertumbuh
Kesalahan terbesar dalam melihat generasi digital adalah ketika kita menjadikan perbedaan sebagai masalah. Setiap generasi selalu memiliki tantangannya sendiri.
Generasi sebelumnya tumbuh dengan persoalan yang berbeda: keterbatasan akses informasi, struktur sosial yang lebih hierarkis, dan perubahan ekonomi yang berbeda. Generasi digital tumbuh dengan tantangan berupa kecepatan perubahan, kompetisi global, dan banjir informasi.
Mereka bukan generasi yang kehilangan kemampuan. Justru mereka memiliki modal yang sangat besar: kemampuan beradaptasi dengan teknologi, kreativitas, keberanian berekspresi, dan kemampuan membangun jejaring secara cepat.
Namun, potensi tersebut membutuhkan ruang pengembangan. Di sinilah pandangan Heralda yang menggunakan pendekatan psikologi menjadi penting. Memahami generasi muda tidak cukup hanya melalui perilaku yang terlihat di permukaan.
Perilaku digital harus dibaca dalam konteks perkembangan psikologis, kebutuhan akan pengakuan, pencarian identitas, dan proses menemukan posisi dalam masyarakat.
Karena itu, respons terhadap generasi digital tidak dapat berupa kecaman moral. Yang dibutuhkan adalah pendekatan yang memahami, mendampingi, dan memberikan ruang aktualisasi.
Persoalannya kemudian bukan pada generasi mudanya, melainkan apakah lembaga-lembaga sosial yang selama ini berfungsi membimbing mereka masih relevan dengan perubahan zaman.
Lembaga Pendamping Kaum Muda Harus Berani Berubah
Selama ini, ketika berbicara tentang pembinaan generasi muda, perhatian sering diarahkan kepada anak mudanya. Kita bertanya apakah mereka memiliki karakter, disiplin, kepedulian, dan tanggung jawab.
Pertanyaan tersebut penting. Namun, ada pertanyaan lain yang juga harus diajukan: apakah lembaga yang membimbing mereka sudah berubah?
Kampus, sekolah, organisasi kepemudaan, lembaga masyarakat, hingga institusi pemerintah memiliki peran besar dalam membentuk generasi masa depan. Tetapi, banyak dari lembaga tersebut yang masih menggunakan pendekatan lama untuk menghadapi realitas baru.
Lembaga pendidikan masih sering menempatkan mahasiswa dan pelajar sebagai penerima pengetahuan, bukan pencipta pengetahuan. Organisasi kepemudaan masih banyak yang bertumpu pada pola struktural dan kegiatan seremonial, sedangkan generasi digital lebih tertarik pada komunitas yang fleksibel, kolaboratif, dan memiliki dampak nyata.
Pemerintah pun perlu mengevaluasi berbagai program kepemudaan. Jangan sampai generasi muda hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi tidak pernah menjadi pengambil keputusan. Generasi digital membutuhkan ruang kepemilikan. Mereka tidak hanya ingin diberi tahu tentang masa depan. Mereka ingin ikut membangun masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: