Dari Kontrang-kantring Menuju Generasi Bertumbuh
ILUSTRASI Dari Kontrang-kantring Menuju Generasi Bertumbuh.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Reformasi Pendekatan: Dari Membimbing Menuju Memberdayakan
Mendampingi generasi muda tidak berarti mengendalikan mereka. Paradigma lama sering kali menempatkan generasi senior sebagai sumber kebenaran, sementara generasi muda dianggap sebagai pihak yang harus belajar. Dalam konteks hari ini, hubungan tersebut perlu diubah menjadi hubungan kolaboratif.
Generasi sebelumnya memiliki pengalaman. Generasi muda memiliki energi dan kemampuan adaptasi. Keduanya harus bertemu. Karena itu, lembaga pendamping kaum muda perlu melakukan tiga perubahan besar.
Pertama, adaptasi. Lembaga harus memahami perubahan cara generasi muda belajar, berkomunikasi, dan berorganisasi. Pendekatan digital tidak sekadar membuat akun media sosial, tetapi juga memahami budaya komunikasi baru.
Kedua, reformasi. Struktur dan cara kerja lembaga perlu berubah agar lebih terbuka terhadap partisipasi generasi muda. Anak muda tidak cukup dilibatkan sebagai peserta, tetapi mjuga harus diberi ruang menjadi penggagas.
Ketiga, reorientasi. Tujuan pembinaan generasi muda tidak boleh hanya menghasilkan individu yang patuh, tetapi juga individu yang kreatif, kritis, dan mampu mengambil tanggung jawab sosial.
Jalan Tengah Adalah Jalan Masa Depan
Perdebatan tentang generasi digital sebenarnya tidak perlu berakhir pada siapa yang paling benar. Setiap generasi memiliki perspektif yang lahir dari pengalaman sejarahnya masing-masing.
Generasi baby boomer membawa kepedulian dan kebijaksanaan pengalaman. Generasi X membawa kemampuan beradaptasi. Generasi Y membawa semangat perubahan dan kritik. Generasi Z membawa kecepatan, kreativitas, dan kemampuan digital.
Semua memiliki peran. Karena itu, istilah ”kontrang-kantring” jangan menjadi label yang melemahkan generasi digital. Jadikan ia sebagai pengingat bahwa setiap generasi membutuhkan ruang belajar.
Generasi muda tidak membutuhkan generasi lama yang menyerahkan seluruh arah hidup mereka. Tetapi, mereka juga tidak membutuhkan masyarakat yang membiarkan mereka berjalan sendirian.
Mereka kaum muda digital butuh teman perjalanan. Masa depan tidak dibangun dengan memenangkan satu generasi atas generasi lain. Masa depan dibangun ketika pengalaman bertemu energi, ketika kebijaksanaan bertemu kreativitas, dan ketika lembaga-lembaga sosial berani berubah mengikuti zaman.
Tantangan terbesar kita bukan bagaimana mengendalikan generasi digital. Tantangan kita adalah bagaimana menciptakan lingkungan yang membuat mereka mampu tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, bertanggung jawab, dan siap memimpin masa depan. (*)
*) Yuga Adi Kusuma adalah dosen dan peneliti Pusat Kajian Komunikasi Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: