Ayu terus mendesak Ari. Mereka berdebat, kemudian debat berubah jadi cekcok, kian lama cekcok kian sengit.
Hendri: ”Pelaku marah. Pelaku mendorong korban ke tempat tidur. Lalu, pelaku menduduki badan korban. Menduduki di atasnya. Dilanjut mencekiknya sampai korban tidak bergerak lagi.”
Korban meninggal. Pelaku tercengang. Panik. Lalu, ia keluar kamar, turun ke lantai dasar, menuju area parkir, masuk ke mobilnya, lalu kabur.
BACA JUGA:Ditangkap, Tersangka Polisi Pembunuh Pacar yang Dibakar: Diduga Emotional Blackmail
BACA JUGA:Suami Bakar Anak Istri
Senin, 25 Mei 2026, sekitar pukul 03.00, Ari kembali masuk ke kamar hotel itu. Kali ini ia sudah punya rencana. Ia langsung membungkus mayat Ayu dengan seprai putih hotel. Kemudian, menekuk jasad itu menjadi posisi meringkuk. Jasad belum kaku.
Terus, bungkusan itu ia gendong menuju kamar mandi. Sebab, di sana ada bak plastik besar warna merah. Jasad dimampatkan masuk bak. Muat, meski menyembul di atasnya.
Ari membuka pintu kamar, ia keluar kamar, tengok kiri-kanan, sepi. Pada jam segitu situasi di hotel itu sepi. Ari memastikan, turun tangga menuju meja resepsionis. Kosong. Tidak ada orang.
Maka, Ari membopong bak, menuruni tangga, dengan langkah tergesa, ia bisa masuk ke mobil. Bak dan isinya ia masukkan bagasi. Mobil berangkat. Aman.
Mobil dihentikan di Jembatan Enim III, Desa Karang Raja, Kecamatan Muara Enim. Itu wilayah sepi. Apalagi, saat itu matahari belum terbit. Ari memarkir mobilnya tersembunyi di daerah semak belukar di pinggir Sungai Enim.
Ari memunguti potongan kayu, ranting, daun kering di sekitarnya, dikumpulkan. Lalu, ia mengeluarkan bak merah. Ia membuat tumpukan ranting semacam api unggun di atas bak tersebut. Kemudian, disiram bensin Pertalite yang sudah ia siapkan. Dibakar.
Api membesar. Membakar mayat. Situasi sekitar tetap sepi. Tak ada orang.
Tak sampai setengah jam, api padam sendiri. Jasad itu hangus, tak bisa dikenali, tapi masih utuh. Lalu, dengan potongan kayu, ia mendorong jasad itu ke arah sungai. Jasad jatuh di pinggiran sungai. Ia tak bisa membuat jasad ke tengah sungai karena pinggiran sungai itu penuh sampah. Ari pun kabur.
Sementara itu, Amar mencari istrinya ke mana-mana. Senin, 25 Mei 2026, atau dua hari sejak istrinya menghilang, Amar lapor polisi kehilangan istri.
Rupanya, daerah pembuangan jasad Ayu cukup terpencil. Jarang dilewati orang. Sampai, Rabu, 27 Mei 2026, sekitar pukul 16.30, ada warga yang melihat jasad gosong itu. Masih teronggok di pinggir sungai. Tidak hanyut. Juga, sebagian plastik merah bekas ember menempel pada jasad gosong.
Penemuan itu heboh. Warga berduyun-duyun melihatnya. Polisi segera tiba, mengolah TKP. Tim Inafis bekerja. Jasad dikirim ke RSUD dr H. Moh. Rabain, Muara Enim, untuk pemeriksaan identitas.