Pengalaman sejumlah fakultas telah menyediakan mentoring, refleksi sejawat, simulasi ujian, dan umpan balik terarah. Pengalaman implementasi peer-reflection di sebuah FK di Jawa Tengah yang dipublikasikan dalam advances in medical education and practice (2021:12 229-235) juga menunjukkan bahwa bimbingan yang tepat dapat membantu sebagian besar retaker untuk lulus ujian.
Salah satu FK di Sumatera telah menyediakan bimbingan gratis oleh dosen, grup pendampingan, motivasi, bahkan psikolog untuk konseling. Namun, juga diakui bahwa kesempatan dan fasilitas bimbingan tidak selalu dimanfaatkan optimal sejak awal.
Itu mengingatkan bahwa remediasi membutuhkan dua sisi: fakultas wajib membina, peserta juga harus sungguh-sungguh dan kooperatif.
Upaya lebih luas dilakukan melalui CRASH program bagi retaker, terutama yang menghadapi batas masa studi Desember 2025. Program itu mencakup 71 FK dengan total retaker 1.786 orang; dengan menyediakan modul, pembelajaran mandiri, bimbingan dari FK asal, serta bimbingan daring dari narasumber.
Karena itu, jalan tengahnya bukan menurunkan standar, melainkan reformasi berbasis data. Ada lima agenda yang perlu dijalankan: pemetaan nasional retaker secara terpilah; remediasi terstruktur berbasis diagnosis akademik individual; batas masa studi yang terukur dan bertanggung jawab; jalur karir alternatif yang bermartabat bagi sarjana kedokteran yang tidak melanjutkan sebagai dokter praktik; dan tata kelola UKNPDPD yang jernih, akuntabel, dan memastikan check and balances.
Penyusunan soal, metode pengujian, penetapan standar kelulusan, dan cara penilaian harus berbasis baku mutu yang disepakati.
Dengan demikian, UKNPDPD harus tetap menjadi penjaga mutu, bukan sekadar pintu yang menutup masa depan. (*)
*) Tonang Dwi Ardyanto adalah guru besar Fakultas Kedokteran, UNS, dan pengurus pusat Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia.