Rudal Bicara, Doha Merana

Sabtu 30-05-2026,10:33 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Boromeu Duarte
Editor : Yusuf Ridho

Lalu, ada logika yang lebih dalam. Kuwait adalah mata rantai terlemah di Teluk. Populasi Syiah di sana, meski minoritas, membuat pemerintahnya selalu gugup. Iran menyerang untuk mengirimkan pesan kepada seluruh kerajaan Teluk. Singkat. Jelas. Mengerikan.

”Jika kalian tetap jadi landasan pengebom AS,” pesan itu, ”kalian akan ikut berdarah.”

Israel Mengejutkan

Ketika mata dunia tertuju ke Kuwait, sesuatu terjadi di langit Iran.

Pesawat F-35 Israel menyelinap dari barat. Melintasi Suriah. Melintasi Irak. Rendah. Senyap. Lalu, bom-bom presisi jatuh di Parchin. Di Khojir. Di jantung produksi rudal Iran.

Ini operasi gabungan. Israel dan AS. Untuk kali pertama, secara terbuka. Sungguh, sebuah lompatan besar.

Mengapa Israel berani? Waktu hampir habis. Program nuklir Iran mendekati titik kritis. Rudal-rudal Iran bisa menjangkau Tel Aviv. Pabrik propelan padat di Parchin adalah urat nadi ancaman itu. Maka, Israel menyobeknya. Langsung. Tanpa ragu.

BACA JUGA:IRGC Luncurkan Serangan Rudal Gelombang ke-55, Targetkan Pangkalan AS dan Israel

BACA JUGA:Rudal Iran Hantam Pangkalan Udara Saudi, Lima Pesawat Tanker AS Rusak

PM Israel Benjamin Netanyahu juga butuh panggung. Ia tak bisa membiarkan AS sendiri. Ia harus menunjukkan bahwa Israel tetap pemain utama. Bukan penonton. Bukan figuran. Maka, malam itu Israel ikut bermain. Dengan api. Dengan bom. Dengan pesan yang sangat keras.

Dunia terhenyak.

Doha Merana

Di tengah dentuman, Doha meratap.

Sejak awal, Qatar ingin jadi penengah. Hotel mewah. Ruang berlapis kain. Delegasi Iran di satu sisi. Delegasi AS di sisi lain. Mediator Qatar mondar-mandir. Bangga. Optimistis.

Lalu, rudal jatuh. Bom meledak. Perundingan mati seketika.

Bagaimana Qatar bisa netral? Pangkalan Al-Udeid, pangkalan terbesar AS di kawasan, ada di tanahnya sendiri. Dari sanalah pesawat pengebom lepas landas. Iran tidak lupa. Iran tidak bodoh.

Kategori :