Turis itu lega. Ia duduk. Menunggu. Senyum masih terkembang.
Saya ikut tertawa kecil. Di tengah dunia yang riuh oleh rudal dan bom, di tengah para pemimpin yang sibuk saling gertak, di warung kecil itu hidup berjalan biasa saja. Manusia masih bisa takut pada sambal. Bukan pada perang. Bukan pada rudal.
Mungkin, suatu hari nanti, para pemimpin dunia perlu dikirim ke warung itu. Biar mereka duduk. Biar mereka pesan nasi goreng dengan lafal berlepotan. Biar mereka takut pada pedasnya sambal, bukan pada kekuasaan dan keserakahan.
Tapi, tentu saja, itu cuma lamunan. Lamunan seorang yang baru selesai membaca berita perang, lalu menutup hape, dan memilih memesan es kelapa muda satu lagi.
Sebab, di Legian, Sabtu sore selalu punya cara sendiri untuk membuat dunia terasa lebih ringan. (*)