Kepercayaan runtuh. Mediasi hancur. Qatar kini dalam posisi serbasalah. Di satu sisi, ia sekutu AS. Di sisi lain, ia berharap jadi sahabat semua pihak. Dua kaki. Dua perahu. Kini perahu itu menjauh. Kaki itu terbelah.
BACA JUGA:AS Serang Pangkalan Drone di Bandar Abbas, Iran Terget Pangkalan Udara AS
BACA JUGA:AS dan Iran Saling Serang Lagi di Selat Hormuz, Kuwait Nyalakan Peringatan Bahaya
Diplomasi Doha menjadi pelajaran mahal. Tanpa kepercayaan, mediasi hanyalah sandiwara. Dan, sandiwara itu selesai sudah.
Paris Menggoda
Sementara api berkobar di Teluk, Presiden Prabowo mendarat di Paris.
Bukan acara biasa. Ada desas-desus Rafale tambahan. Ada pembicaraan investasi energi bersih. Di tengah dunia yang terbelah, Indonesia memilih memperlebar sayap. Tidak bergantung pada satu kutub.
Prancis adalah mitra strategis. Militer yang merdeka. Teknologi yang mumpuni. Politik luar negeri yang tidak sepenuhnya tunduk kepada Washington. Indonesia membaca peta dengan jernih. AS sibuk di Teluk. Rusia terikat di Ukraina. Tiongkok bergolak di Laut China Selatan. Maka, Eropa menjadi angin segar.
Prabowo tahu, ketergantungan adalah kelemahan. Transisi energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Rudal di Kuwait bisa mengguncang harga minyak di Jakarta. Perang di Selat Hormuz bisa mematikan listrik di Kuta. Indonesia harus siap.
Kunjungan itu membawa pesan yang tenang. Indonesia tidak akan tenggelam dalam pusaran konflik orang lain. Indonesia memilih jalan sendiri.
Nasi Goreng dan Rasa Takut
Sore tiba. Saya menyeberang di depan Pasar Kuta. Matahari mulai turun. Warna jingga. Angin sepoi.
Di sebuah warung kecil, seorang turis Australia berdiri. Tubuhnya tambun. Kulitnya merah direbus matahari. Ia memesan nasi goreng dengan lafal yang sangat berantakan. ”Nasi goreng, pedas, tidak pakai sayur, banyak kerupuk.”
Pelayan warung, seorang ibu separuh baya, mencatat dengan serius. Lalu, ia bertanya, ”telurnya setengah matang saja?”
Turis itu mengangguk cepat. Matanya berbinar. Ia tersenyum lebar. Lalu, tiba-tiba ia menambahkan dengan nada khawatir, ”tapi, jangan pakai sambal terlalu banyak, ya. Saya takut banget pedas.”
Ibu pelayan tertawa. ”Tenang, Pak! Sambal di sini cuma sedikit. Tidak akan meledak.”