Dari Hoaks Kasar ke Persuasi Halus
Pergeseran teknologi propaganda perlu dibaca sebagai pergeseran logika strategis. Pada era 2014–2020, modus dominan adalah hoaks“”kasar” berupa gambar konflik lain diklaim sebagai aktual, mudah dipatahkan dengan reserve image search.
National Public Radio (NRP) di AS mendokumentasikan cuplikan permainan video game yang diklaim sebagai serangan Iran ke Israel pada April 2024. Modus itu murah, tapi cepat kehilangan kredibilitasnya.
BACA JUGA:Perang Iran dan Kompleksitas Geopolitik di Timur Tengah
BACA JUGA:Perang Narasi Era Akal Imitasi
Gelombang berikutnya bergerak ke arah berlawanan, persuasi berbasis AI dan deepfake yang tidak dirancang untuk diperdebatkan, tetapi untuk menyusup ke alam bawah sadar publik.
Operasi Iran ”Tears of War” membayar influencer Israel hanya 220 dolar AS untuk mempromosikan kanal propaganda kepada 378 ribu pengikut, sementara kampanye ISNAD menyerbarkan ribuan unggahan harian dengan teknik floading the discourse. Times of Israel (2026) bahkan melaporkan estimasi separuh akun politis aktif di Israel adalah bot.
Mengapa pelaku bergeser modus? Pertama, algoritma platform makin sensitif terhadap pola prilaku yang tidak autentik. Kedua, biaya reputasi ketika hoaks jika terbongkar menjadi tinggi.
Ketiga, konten emosional yang tampak organik jauh lebih efektif memicu share daripada klaim faktual bombastis. Waltzman (2017) menamai medan itu keamanan kognitif, yakni pertahanan bukan lagi pada perimeter sistem, melainkan pada proses berpikir warga.
BACA JUGA:Tenang, Amerika Serikat Tak Selalu Menang Perang
BACA JUGA:Iran Serang Israel, Perang Dunia Ketiga di Depan Mata?
Netizen sebagai Kombatan Sukarela
Salah satu konsekuensi paling konkret dari hybrid warfare adalah kaburnya identitas aktor. Diplomat tidak hanya berperan sebagai representasi resmi, tetapi juga menjadi operator narasi agresif.
Sebaliknya, warga sipil mudah bertransformasi menjadi ”kombatan sukarela” yang memobilisasi opini dan menyebarkan pesan suatu negara tanpa pernah mengenakan seragam militer (Singer dan Brookin, 2018). Dampak bagi Indonesia, pertama, yaitu dampak langsung pada kohesi sosial, konten Iran-Israel menumpang pada sumbu agama yang sensitif, mudah dibajak untuk memperdalam polarisasi domestik.
Kedua, ketika ekosistem digital nasional menjadi panggung pertempuran asing, kualitas debat publik tentang isu domestik ikut tergerus. Pengalaman operasi informasi Rusia pada Pemilu AS 2016 (Rid, 2020) dan perluasan perang narasi Rusia-Ukraina sejak 2022 yang memaksa Uni Eropa membentuk East StratCom Task Force menunjukkan kerentanan itu bersifat struktural, bukan sekadar soal rendahnya literasi warga.
Di berbagai platform media sosial, kita melihat tiba-tiba banyak pakar dadakan kajian hubungan internasional, pakar studi pertahanan, kemananan, intelijen dan lain-lain muncul.