Bertanding untuk Bersanding 4.0

Minggu 31-05-2026,17:53 WIB
Oleh: M. Ali Affandi LNM

Bukan kelemahan itu. Justru di sana letak kekuatan sejatinya.

Kembali ke HIPMI.

Empat calon yang akan bertanding hari-hari ini bukan orang luar. Mereka kader. Mereka saudara. Mereka tumbuh dari tanah yang sama, ditempa oleh nilai yang sama, dan dipersatukan oleh tujuan yang sama pula.

Karena itu, mereka tidak sedang bertarung untuk saling meniadakan.

“Mereka bertanding untuk bersanding.”

Tapi saya ingin bicara hal lain sebentar.

Hal yang lebih besar dari sekadar siapa yang menang Munas.

Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Angka pengangguran anak muda menyentuh belasan juta jiwa. PHK melanda sektor manufaktur. Daya beli masyarakat tergerus. Rupiah bergolak. Investasi asing masuk, tapi lapangan kerja yang tercipta tidak sebanding. Kita sedang menghadapi ancaman deindustrialisasi dini: negara yang belum kaya, tapi industrinya sudah menyusut.

Siapa yang harus menjawab tantangan itu?

Bukan hanya pemerintah. Bukan hanya birokrat. Justru pengusaha muda, mereka yang duduk di ruang Munas yang paling dekat dengan jawaban itu. HIPMI bukan organisasi seremonial. Ia adalah kawah candradimuka wirausaha bangsa. Dari sinilah seharusnya lahir para pencipta lapangan kerja, bukan pencari kerja. Dari sinilah seharusnya muncul solusi bukan sekadar keluhan.

Dunia juga sedang berubah cepat, terlalu cepat.

Kecerdasan buatan (AI) menggerus pekerjaan lama. Ekonomi digital tumbuh pesat, tapi yang menikmatinya masih segelintir. UMKM kita, 64 juta usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi. masih banyak yang berjuang sendirian. Mereka butuh ekosistem. Butuh mentor. Butuh jaringan. Dan HIPMI, dengan ribuan anggotanya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, punya modal untuk menjadi ekosistem itu.

Bayangkan jika setiap anggota HIPMI membina satu UMKM di daerahnya.

Bayangkan jika jaringan HIPMI dipakai sungguh-sungguh untuk membuka akses pasar, akses modal, dan akses teknologi bagi pengusaha kecil yang belum punya suara.

Itu bukan mimpi. Itu pilihan. Dan pilihan itu dimulai dari siapa yang duduk di kursi ketua umum dan lebih penting lagi, bagaimana ia menjalankan amanah itu bersama semua pihak yang hari ini berbeda pilihan.

Kategori :