Maka, tak heran bila Paul Collier dalam bukunya, Wars, Guns, and Votes: Democracy in Dangerous Places (2009), menyebut, di negara kaya seperti OECD, kemungkinan petahana terpilih kembali hanya 45 persen, sedangkan di negara miskin mencapai 74 persen sekalipun pada periode sebelumnya buruk kinerjanya.
Kalau sudah begini, benar apa yang dibilang pepatah Latin, ”corruptio optimi pessima”. Keburukan yang ditimbulkan oleh yang terbaik adalah yang terburuk. (*)