PENDIDIKAN sering dipahami sebagai jalan normatif memperoleh ilmu pengetahuan, pekerjaan, tingkat kesejahteraan, dan status sosial. Sejatinya, pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan semata, melainkan juga proses memanusiakan manusia.
Pendidikan memiliki makna yang lebih hakiki: menghadirkan kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Pendidikan yang berhasil tidak hanya melahirkan murid yang cerdas secara akademik, tetapi juga yang bahagia, sehat secara mental, aman secara sosial, dan memiliki karakter mulia.
Pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan manusia cerdas, tetapi juga yang mampu menemukan makna hidup, memiliki kesejahteraan emosional, serta hidup berdampingan secara harmonis dengan sesamanya.
Pada konteks pendidikan modern, kebahagiaan menjadi indikator penting kualitas pendidikan. Negara-negara dengan sistem pendidikan terbaik tidak hanya mengukur capaian akademik, tetapi juga kesejahteraan, kesehatan mental, relasi sosial, dan rasa aman di lingkungan belajar.
BACA JUGA:Menakar Pendidikan Bermutu untuk Semua
BACA JUGA:Pecundang Pendidikan: Kisah Abadi Joki Seleksi PTN
Di Indonesia, ikhtiar pendidikan harus menghadirkan kebahagiaan memperoleh penguatan melalui penerbitan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Permendikdasmen itu menjadi tonggak penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih humanis, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan seluruh warga sekolah.
Bukan Sumber Ketakutan
Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah proses ”menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak” agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Filosofi itu menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses pembelajaran, melainkan juga proses pembentukan manusia yang bahagia lahir dan batin.
Pendidikan yang hanya mengejar angka, peringkat, dan kompetisi tanpa memperhatikan kebahagiaan murid akan kehilangan ruh kemanusiaannya. Filsuf Yunani, Aristotle, juga menyatakan bahwa tujuan akhir manusia adalah eudaimonia atau kehidupan yang baik dan bahagia.
BACA JUGA:Ruh Tut Wuri Handayani Ki Hadjar Dewantara: Masihkah Pendidikan di Indonesia Memanusikan Manusia?
BACA JUGA:Mewujudkan Pendidikan Berkeadilan bagi ABK: Antara Cita-Cita, Realitas, dan Jalan Menuju Perubahan
Pendidikan menjadi sarana untuk membentuk kebajikan, karakter, dan kebijaksanaan agar manusia mampu mencapai kehidupan yang bahagia tersebut.
Sering kali pendidikan diidentikkan dengan tekanan, hukuman, intimidasi, dan kompetisi yang berlebihan. Banyak murid merasa sekolah menjadi ruang yang melelahkan secara emosional. Fenomena perundungan, kekerasan verbal, diskriminasi, hingga tekanan akademik berlebihan menjadi ancaman nyata terhadap kebahagiaan belajar.