HARI PERTAMA bulan Juni dimulai dengan kerusuhan yang tidak biasa. Bukan suara takbir atau petasan, melainkan deru tank Merkava masuk ke wilayah yang katanya sudah aman. Israel merebut Beaufort Ridge, benteng tua yang tiba-tiba jadi saksi bisu eskalasi baru.
Menteri Pertahanan Katz tidak main-main. Ia mengumumkan seluruh zona selatan Litani akan dikuasai militer. Padahal, gencatan senjata belum dicabut. Ironisnya, Hizbullah langsung membalas dengan roket-roket receh yang lebih banyak merusak kebun zaitun daripada markas musuh.
Akibatnya, lebih dari 200.000 warga Beirut selatan mengungsi dalam tempo kurang dari sehari. Mereka lari membawa kardus dan selimut, sementara para jenderal asyik berdebat di studio televisi.
Gencatan Setengah
Hari kedua lahir istilah baru dalam kamus perang modern: partial ceasefire. Arti sederhananya, Israel tidak mengebom Beirut Selatan, Hizbullah tidak menembak ke Galilea Utara. Wilayah lain bebas merdeka. Dan, benar saja, delapan warga sipil tewas di desa-desa terpencil akibat serangan drone.
Di sisi lain, Hizbullah mengeklaim berhasil melumpuhkan dua tank Merkava dengan drone Ababil. Pasukan Israel mundur sebentar, lalu maju lagi, lalu mundur lagi. Pola itu mengingatkan kita pada tari saman versi maut.
Kesepakatan yang dirayakan mediator hanya bertahan selama matahari belum terbenam. Damai setengah hati sama saja berdamai dengan setan yang sedang puasa.
Sembilan Jam Ngobrol
Ini babak paling aneh. Delegasi Lebanon dan Israel duduk manis di Washington selama sembilan jam. Hasil perundingan: sebuah pernyataan bersama yang berbunyi, ”kami sepakat berdamai dengan syarat kamu menyerah duluan.”
Israel meminta Hizbullah angkat kaki dari seluruh Litani Selatan. Hizbullah meminta Israel angkat kaki dari semua pendudukan. Tanpa titik temu, mereka memutuskan bertemu lagi pada 22 Juni. Tapi, sebelum teh perundingan sempat dingin, Israel sudah melancarkan serangan udara di lima titik. Dua paramedis tewas. Satu ambulans hancur.
Gencatan senjata yang baru ditandatangani kedaluwarsa lebih cepat daripada susu kemasan. Diplomasi gaya modern: tanda tangan di atas meja, jari telunjuk di pelatuk.
Wasit yang Merangkap Pemain
Kita tidak bisa menutup mata pada sosok di balik layar. Amerika Serikat (AS) datang sebagai mediator, tapi dalam pernyataan bersama tertulis hitam di atas putih bahwa Israel mendapat kebebasan bertindak dengan dukungan AS.
Artinya, wasit tidak hanya meniup peluit, tetapi juga ikut menendang bola ke gawang lawan. Dukungan itu mencakup hak Israel untuk menyerang Beirut Selatan sebagai bentuk pembalasan. Wajar jika Hizbullah terus ngotot. Mereka tidak sedang berhadapan dengan juru damai, tetapi dengan koordinator perang.
Satu setengah juta warga Lebanon kini hidup di kolong langit yang tidak pernah benar-benar teduh. Zona kuning buatan Israel terus melebar, sementara dunia hanya mampu mengeluarkan pernyataan keprihatinan.