Ciri ketiga, ”digital buzzing”. Memobilisasi pembuat opini digital, influencer, atau akun robot untuk meredam kritik publik terhadap penguasa. Sekaligus membangun narasi, bahwa sang penguasa adalah figur tanpa cela.
BACA JUGA:Kabinet Politik
BACA JUGA:Literasi Politik sebagai Lokomotif Demokrasi
Ciri keempat, ”memburu akses”. Fokus utama para penjilat adalah inner circle access. Mereka akan lebih sibuk menegasikan rival yang kritis di sekitar penguasa. Tak ada perhatian pada penyelelesaian masalah.
Ciri kelima, ”menyembunyikan informasi buruk”. Segala kebijakan penguasa dikatakan baik dan berhasil. Masalah riil yang buruk terkait kebijakan disembunyikan.
Bagaimana mengatasi para penjilat politik? Mengacu best-practices banyak negara, cara paling efektif mengatasi dan menyingkirkan penjilat tak bisa sekadar mengimbau untuk bertobat.
Tapi, perlu mengubah struktur insentif secara sistemik. Cara termaksud meliputi, pertama, ”memperkuat meritokrasi”. Dalam hal ini, promosi jabatan harus berbasis kinerja, kompetensi, dan rekam jejak.
Kedua, ”menciptakan kompetisi informasi”. Penguasa harus menerima informasi dari banyak sumber dan berbasis data faktual. Makin banyak sumber informasi, makin sulit penjilat memonopoli narasi.
Ketiga, ”melindungi kritik internal”. Birokrasi dan teknokrasi harus merasa aman dan dilindungi ketika menyampaikan kritik profesional. Kalau birokrasi dan teknokrasi tak terlindungi dan menjadi diam, penjilat politik akan merajalela.
Keempat, ”membatasi personalisasi kekuasaan”. Institusi harus didorong menjadi lebih kuat daripada figur individu. Negara yang sehat bergantung kepada aturan kelembagaan, bukan figur individu. Dengan demikian, peluang penjilat politik untuk eksis jadi mengecil.
Sampai di sini, terbaca pola perihal penjilat politik dalam konteks negara era sekarang. Pola termaksud menegaskan bahwa penjilat politik bukan terutama muncul karena karakter individu. Melainkan, lebih karena struktur insentif kekuasaan.
Ketika kekuasaan terkonsentarasi, ketika penguasa amat ideosinkratik, ketika kritik dianggap musuh, dan ketika informasi dimonopoli, penjilat politik niscaya hadir merajalela.
Berhal demikian, risiko terbesar dari adanya penjilat politik dalam lingkaran kekuasaan negara adalah tumbuhnya ekosistem politik yang menghargai loyalitas di atas kebenaran. Dengan demikian, kapasitas negara untuk belajar, mengoreksi kesalahan, dan beradaptasi terhadap perubahan menjadi melemah. Nah! (*)
*) Haryadi adalah penasihat senior Lab45. Dosen FISIP, Unair.