Jembatan Putus di Krimea, Sate Ikan di Denpasar

Jumat 12-06-2026,05:33 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte*
Editor : Yusuf Ridho

SAYA tidak menyangka pagi itu harus memikirkan jembatan di Krimea sambil menusukkan sambal bumbu ke sate ikan marlin. Di Denpasar, urusan saya sederhana: ikan segar, tusukan sate yang rapi, dan bumbu sambal yang pas. Tapi, berita pagi itu membuat saya terbelalak lebih dalam dari biasanya.

Begini. Krimea, semenanjung yang direbut Rusia tahun 2014, sekarang sedang puasa logistik. Empat jembatan yang menghubungkan daratan Ukraina ke sana putus total. Chonhar amblas. Arabat Spit, Armiansk, Krasnoperekopsk menyusul. Jalur darat? Tamat. 

Rusia buru-buru masang ponton darurat, tapi kapasitasnya seperti mengganti slang gas restoran saya pakai sedotan plastik. Pemerintah pendudukan Rusia di Krimea mengumumkan, ”hari ini tidak ada kiriman BBM, tapi tenang, besok mungkin ada.” Kalimat itu lebih cocok untuk status galau di Facebook ketimbang pengumuman gubernur militer.

BACA JUGA:Komandan Utama Putin Tewas di Krimea, Klaim Ukraina Dibantah Rusia

Lalu, ada kilang minyak Kuibyshev di Samara yang terbakar. Seribu kilometer lebih dari perbatasan Ukraina. Bloomberg mencatat 38 serangan ke kilang Rusia tahun ini saja. Dua puluh lima wilayah Rusia sekarang antre bensin. Moskow belum panik, tapi telinga mereka pasti merah membara. 

Duma sudah memberikan lampu hijau untuk cetak uang sesuka hati. Defisit melonjak dari 3,8 triliun jadi 6 triliun rubel dalam lima bulan. Resep klasik menuju hiperinflasi. Kepala Partai Komunis di Duma sudah melemparkan kata ”revolusi”. Kalau orang itu sudah bicara revolusi, biasanya ia hafal nadanya.

Di panggung lain, Donald Trump masih sibuk mendeklarasikan kemenangan yang tak kunjung datang. Januari: ”Rakyat Iran, bantuan akan datang.” Juni: ”Saya akan deklarasikan kemenangan dua minggu lagi.” Netanyahu sudah pasang kuda-kuda, ”kita mungkin harus hadapi Iran sendirian.” Sekutu paling setia saja sudah tidak percaya.

Saya menatap sate ikan saya. Tiba-tiba terpikir: apa hubungannya semua ini dengan warung memakai tenda di Denpasar?

Dari Krimea ke Pasar Badung

Hubungannya erat sekali.

Harga minyak mentah dunia meroket karena konflik yang tak kunjung padam. Di atas kertas, ekonomi kita masih gagah: tumbuh 5,61 persen di kuartal pertama, inflasi 3,08 persen, surplus perdagangan 72 bulan berturut-turut. Saya harus bolak-balik membaca angka itu sambil membalik sate di atas bara.

Tapi, lihat rupiah. Sempat keok ke delapan belas ribu per dolar AS. Indeks saham IHSG ambles 32 persen sejak awal tahun. Pembeli sate saya yang biasanya pesan dua porsi sekarang sering hanya satu. ”Sepi, Bos,” kata mereka. Saya paham.

Bank Indonesia menaikkan BI rate menjadi 5,5 persen. Obat pahit yang langsung terasa. Kredit mencekik, KPR melambung, modal kerja teman-teman UMKM tersendat. Modal asing kabur dari pasar saham dan obligasi, memilih pulang ke pelukan dolar. Indeks keyakinan konsumen turun ke 120,9. 

Artinya? Orang mulai ”turun kelas”. Yang biasa beli sate ikan pakai lalapan lengkap, sekarang cukup nasi dan sambal. Yang biasa belanja pakai uang dingin, sekarang menguras tabungan atau bahkan melirik pinjol.

Pemerintah juga megap-megap. Defisit APBN per Mei mencapai Rp180 triliun karena subsidi BBM dan listrik membengkak. Kenaikan Pertamax 32 persen membuat ongkos kirim ikan saya naik. Bank Dunia memperingatkan ruang fiskal kita menyempit. Kalau situasi global makin buruk, bersiaplah: tarif listrik naik, pajak baru datang menyapa.

Kategori :