Ekonomi Dunia dan Peta Geopolitik Pascaperang AS vs Iran

Rabu 17-06-2026,06:33 WIB
Reporter : Tofan Mahdi*
Editor : Yusuf Ridho

Bersyukur pemerintah telah mengambil sejumlah kebijakan strategis dan taktis untuk mengembalikan kepercayaan pasar, selain situasi geopolitik global yang mulai membaik. 

Kurs rupiah kembali menguat hingga di posisi Rp17.800 per USD dan IHSG ditutup pada level 6.254 (15 Juni 2026). 

Kesepakatan damai antara AS dan Iran akan membawa harapan baru tercapainya target pertumbuhan ekonomi global seperti yang ditetapkan IMF (Dana Moneter Internasional), yaitu 3,1% pada 2026 dan 3,2% pada 2027. Bahkan, jika perang benar-benar selesai, target pertumbuhan ekonomi akan bisa tercapai lebih tinggi.

Perdamaian di Timur Tengah

Setelah melalui proses perundingan yang alot, AS dan Iran melaui perantara Pakistan menyepakati poin-poin dalam perjanjian perdamaian.  

Dari 14 poin perdamaian, beberapa hal krusial yang akhirnya disepakati adalah terkait program nuklir Iran, pembukaan blokade di Selat Hormuz, pencairan aset-aset Iran di luar negeri yang dibekukan, pembayaran ganti rugi pascaperang, dan penghentian eskalasi bersenjata di semua front, termasuk di Gaza dan wilayah Lebanon Selatan. 

Terkait poin program nuklir Iran, belum jelas detail poin yang disepakati. Sepertinya, Iran menyetujui program pengembangan teknologi nuklir dihentikan sementara untuk jangka waktu tertentu. Isunya disepakati 14 tahun. 

Peta geopolitik global, khususnya di Timur Tengah, sedikit banyak akan berubah pascaperang AS-Iran. Namun, tidak signifikan. AS masih akan menempatkan pangkalan militernya di sejumlah negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. 

Namun, kehadiran pangkalan militer itu lebih sebagai bagian pengamanan kepentingan ekonomi AS di Teluk, khususnya terkait perdagangan minyak dan senjata. 

Yang mungkin berubah signifikan adalah kalkulasi AS dan negara-negara di Teluk terkait kekuatan militer Iran. Iran menjadi poros baru, yang akan sedikit mengurangi dan membagi pengaruh AS di Timur Tengah. 

AS tetap menjadi sekutu utama negara-negara Arab, tetapi upaya untuk membujuk mereka memerangi Iran, baik demi kepentingan AS maupun Israel, akan makin sulit. 

Yang akan berubah signifikan adalah hubungan bilateral dan regional antara Iran dan negara-negara Organisasi Kerja Sama Teluk (GCC). Pascaperang, Iran sebagai negara Islam Syiah dan negara-negara Arab yang bermazhab Islam Sunni akan mencapai titik tertinggi dan terbaik sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979. 

Momentum itu akan dimanfaatkan Iran untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang seperti ekonomi, pertahanan keamanan, bahkan sosial keagamaan. Termasuk akan menjadi momentum memperkuat saling kesepahaman antara umat Islam Syiah dan Sunni. 

Iran mencatat kemenangan strategis dalam perang kali ini, bahkan jauh di atas yang diharapkan dicapai AS, apalagi Israel.

Melihat peta geopolitik Timur Tengah yang mungkin akan berubah seperti di atas, Indonesia harus memulihkan kembali hubungan diplomatik dengan Republik Islam Iran sehingga menjadi lebih dekat dan bersahabat tanpa perlu khawatir dengan ancaman Donald Trump.

Israel Jadi Ganjalan

Kategori :