Tentu mekanisme organisasi boleh berubah mengikuti zaman. Namun, ruhnya jangan sampai hilang. Sebab, yang membuat NU bertahan selama lebih dari satu abad bukanlah kecanggihan organisasinya, melainkan kepercayaan umat kepada para ulama yang memimpinnya.
NU sudah melewati masa kolonialisme. Bertahan di masa Orde Lama. Tetap hidup di tengah tekanan Orde Baru. Juga, terus menjadi kekuatan penting di era Reformasi. Ini pelajaran berharga. NU selalu kuat ketika berada di tengah masyarakat.
Setiap upaya menjadikannya sekadar instrumen kekuasaan tak pernah benar-benar berhasil. Sebab, NU memang bukan Nahdlatul Umara. NU adalah Nahdlatul Ulama. Rumah besar para ulama yang menjaga umat. Kekuatan sipil sekaligus penjaga moral bangsa.
Sebagai orang NU pinggiran, saya hanya bisa titip pesan melalui Ketua PBNU Allisa Wahid. ”Ning, titip piye carane agar NU tidak menjadi Nahdlatul Umara. Saya lebih seneng NU tetap menjadi kekuatan sipil yang menjadi pegas pengaman jalannya pemerintahan bangsa ini,” tulis saya melalui WhatsApp.
Loh, kok tidak kirim pesan melalui Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Sekjen Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang berteman sejak mahasiswa? Saya tahu keduanya pasti amat sibuk untuk sekadar membaca pesan dari kawan lamanya yang berada di pinggiran.
Mengapa tidak berpesan ke A. Muhaimin Iskandar alias Cak Imin yang juga kawan lama? Nah, ia kan ketum DPP PKB. Bukan pengurus PBNU. Apalagi, kini sedang baper (bawa perasaan) dengan Gus Ipul yang juga ketua panitia munas, konbes, dan muktamar NU. (*)