Labaytum Award dan Cermin Reformasi Haji RI

Selasa 23-06-2026,23:25 WIB
Oleh: Ahmad Tholabi Kharlie*

BACA JUGA:Haji Ilegal: Ancaman Nyata yang Harus Dibasmi Habis

Pada titik itu, perhatian utama perlu diarahkan pada peningkatan kualitas pelayanan jamaah secara berkelanjutan. Labaytum dapat dipandang sebagai salah satu instrumen evaluasi terhadap proses tersebut. Apabila kualitas pelayanan makin baik, sistem makin kuat, dan tata kelola makin adaptif, pengakuan internasional akan mengikuti dengan sendirinya.

Meski, sejatinya, penghargaan paling bermakna tetap hadir dalam pengalaman para jamaah yang dapat menjalankan ibadah dengan aman, sehat, nyaman, dan bermartabat.

Dalam konteks itu, Labaytum menghadirkan ruang refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan penyelenggaraan haji. Penghargaan tersebut memperlihatkan arah perkembangan tata kelola haji dunia yang makin menekankan integrasi sistem, pemanfaatan teknologi, dan kualitas layanan yang terukur.

Perubahan yang berlangsung menghadirkan kebutuhan untuk terus melakukan evaluasi dan pembaruan. Yang dibutuhkan adalah konsistensi membangun sistem pelayanan yang makin terukur, terintegrasi, dan berkelanjutan. 

Pengalaman panjang Indonesia dalam penyelenggaraan haji merupakan modal yang sangat berharga untuk memperkuat tata kelola kelembagaan yang adaptif terhadap perkembangan standar pelayanan global.

Pada akhirnya, pelayanan haji yang unggul bertumpu pada sistem yang mampu menghadirkan pendampingan, perlindungan, dan pelayanan yang berkesinambungan bagi jamaah sepanjang perjalanan ibadah mereka.

Di sanalah makna reformasi memperoleh relevansinya, yakni menghadirkan negara yang makin profesional dalam melayani para tamu Allah. (*)

*) Ahmad Tholabi Kharlie adalah guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

Kategori :