Labaytum Award dan Cermin Reformasi Haji RI

Labaytum Award dan Cermin Reformasi Haji RI

ILUSTRASI Labaytum Award dan Cermin Reformasi Haji RI.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PADA penghujung musim haji 1447 H/2026 M, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi kembali mengumumkan penerima Labaytum Award for Excellence in Serving the Guests of Allah. Malaysia kembali meraih Diamond Award, penghargaan tertinggi yang dalam beberapa tahun terakhir secara konsisten mereka peroleh. Sejumlah negara lain juga mendapatkan penghargaan pada kategori berbeda.

Indonesia kembali tidak tercantum dalam daftar penerima penghargaan tersebut.

Bagi sebagian kalangan, fakta itu mungkin tidak terlalu penting. Ukuran utama keberhasilan penyelenggaraan haji tetap terletak pada kemampuan menghadirkan pelayanan yang memungkinkan jamaah menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, sehat, dan khusyuk.

Meski demikian, fakta tersebut tetap layak dicermati. Labaytum menghadirkan perspektif mengenai arah perubahan tata kelola haji yang sedang berlangsung di Arab Saudi dan di tingkat global. Perhatian terhadap penghargaan itu menjadi relevan karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia. 

BACA JUGA:Antrean Haji Berhasil Dipangkas Menjadi 26 Tahun, Presiden Instruksikan Dipangkas Lebih Cepat Lagi

BACA JUGA:Kemenhaj Berjanji Berantas Kartel Haji

Pada musim haji tahun ini, kuota Indonesia mencapai lebih dari 221 ribu orang. Besarnya jumlah jamaah menghadirkan kompleksitas pelayanan yang tidak ringan, mulai persiapan keberangkatan, layanan kesehatan, akomodasi, transportasi, hingga pendampingan ibadah di Tanah Suci.

Karena itu, evaluasi terhadap penyelenggaraan haji Indonesia perlu ditempatkan dalam perspektif perbaikan berkelanjutan. Setiap musim haji menghadirkan tantangan baru yang memerlukan kemampuan adaptasi, penguatan sistem, dan pembelajaran kelembagaan yang terus berkembang.

Standar Baru

Labaytum merupakan bagian dari transformasi besar penyelenggaraan haji yang sedang berlangsung di Arab Saudi. Penghargaan itu lahir dalam kerangka Saudi Vision 2030 yang mendorong modernisasi pelayanan publik, termasuk pelayanan kepada jutaan jamaah haji dari seluruh dunia.

Penilaian mencakup keberhasilan operasional penyelenggaraan haji, aspek kesehatan, kepatuhan terhadap regulasi, integrasi sistem digital, manajemen risiko, inovasi pelayanan, kualitas koordinasi kelembagaan, hingga pengalaman jamaah selama menjalankan ibadah.

BACA JUGA:Kemenhaj Ancam Cabut Izin KBIH Nakal yang Terbukti Tipu Jamaah Haji

BACA JUGA:Menyambut Kepulangan Para Haji

Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi melakukan pelbagai pembaruan penting. Digitalisasi layanan melalui platform Nusuk, integrasi data kesehatan, pengaturan mobilitas jamaah berbasis teknologi, serta peningkatan standar keselamatan menjadi bagian dari perubahan besar tersebut. Haji makin dikelola melalui pendekatan yang terukur, terdokumentasi, dan berbasis data.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: