Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian masyarakat mengalami pengungsian berulang akibat banjir. Bagi mereka, keadaan darurat bukan lagi peristiwa sesaat, melainkan pengalaman yang terus kembali.
Fenomena itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai belahan dunia, perubahan iklim memperbesar risiko perpindahan penduduk melalui curah hujan ekstrem, kenaikan muka air laut, kekeringan, dan degradasi lingkungan.
Ketika Ancaman Bersekutu
Rumah tidak selalu hilang karena satu bencana. Sering kali rumah hilang ketika berbagai ancaman bersekutu. Perubahan iklim merupakan salah satu ancaman tersebut. Namun, perubahan iklim jarang bekerja sendirian. Ia memperbesar berbagai kerentanan yang sudah ada.
Curah hujan yang makin ekstrem belum tentu berubah menjadi bencana jika sungai masih memiliki daya tampung dan kawasan resapan masih berfungsi. Namun, ketika hujan ekstrem bertemu sungai yang dangkal dan saluran yang tersumbat sampah, risiko banjir meningkat drastis.
Itulah yang oleh banyak peneliti disebut sebagai pengganda ancaman (threat multiplier). Perubahan iklim tidak selalu menciptakan persoalan baru, tetapi memperburuk berbagai persoalan yang ada.
Karena itu, banjir yang memaksa masyarakat meninggalkan rumahnya sering kali bukan semata akibat hujan, melainkan hasil pertemuan berbagai ancaman yang saling memperkuat.
Fenomena serupa terlihat dalam skala global. Curah hujan ekstrem, kekeringan, kenaikan muka air laut, dan degradasi lingkungan membuat makin banyak wilayah kehilangan kemampuan untuk menopang kehidupan secara aman. Akibatnya, rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempat berlindung perlahan kehilangan fungsi dasarnya: memberikan rasa aman.
Jika tren itu terus berlanjut, Bank Dunia memperkirakan lebih dari 200 juta orang berpotensi berpindah akibat dampak perubahan iklim pada 2050. Ancaman kehilangan rumah bukan lagi persoalan masa depan. Ia sudah berlangsung di berbagai tempat, termasuk di sekitar kita.
Pertanyaannya kemudian, apakah kita sepenuhnya korban dari krisis itu?
Menjaga Rumah dari Hulu
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Sebagian ancaman memang berada di luar kendali kita, seperti perubahan iklim global. Namun, sebagian lainnya lahir dari keputusan-keputusan yang kita ambil setiap hari, termasuk dalam memperlakukan sampah rumah tangga.
Selama ini sampah sering dipandang sebagai persoalan kebersihan. Padahal, dampaknya jauh lebih luas. Sampah yang terlepas ke sungai dapat memperparah banjir karena menyumbat drainase, sedangkan sampah yang menumpuk di tempat pemrosesan akhir akan menghasilkan gas metana yang mempercepat pemanasan global.
Dengan kata lain, sampah tidak berhenti ketika dibuang. Ia dapat kembali kepada kita dalam bentuk banjir, emisi rumah kaca, dan meningkatnya risiko kehilangan rumah.
Itulah ironi yang jarang disadari. Ancaman terhadap rumah tidak selalu datang dari luar. Sebagiannya berasal dari aktivitas yang kita anggap biasa setiap hari.