Dunia Lebih Lebar daripada Bingkai AI: Melawan Kelatahan Tekno-Pragmatisme

Sabtu 27-06-2026,08:33 WIB
Oleh: David Segoh*

Jika tidak salah, di dalam ranah teknologi komputasi, bahasa diperlakukan masih sekedar sebagai angka, matriks token, statistik, dan kalkulasi matematis tentang kata berikutnya yang paling mungkin muncul. Sampai saat ini, AI hanya bisa membaca teks secara literal dan mekanis.

Namun, bagi kita manusia, terutama dalam lanskap kultural Indonesia, bahasa bukanlah sekadar alat transfer informasi yang rigid dan sekedar matematis. Bahasa adalah sebuah kosmologi. Ia adalah wadah dari rasa, negosiasi etis, kelenturan diplomasi, bahkan spiritualitas. 

Ketika belajar bahasa asing atau sastra lokal, seorang mahasiswa tidak sedang menghafal barisan kosakata. Ia sedang belajar melipat jarak ego dirinya untuk masuk ke cara berpikir bangsa lain atau mendalami cara berpikir unik bangsanya sendiri. Ia sedang mengasah empati dan kedalaman hati.

Dalam ruang sosial budaya kita, ada begitu banyak ”ruang kosong” di antara kata-kata. Tradisi tenggang rasa, subteks dalam ekspresi ewuh pekewuh, sindiran halus yang sarat makna, hingga intonasi kultural, semuanya adalah wilayah yang mustahil dijamah oleh radar algoritma AI saat ini dan entah sampai kapan. 

Aplikasi penerjemah real-time tercanggih sekalipun mungkin bisa mengalihkan bahasa Indonesia ke bahasa asing dalam hitungan milidetik dan sebaliknya, tetapi ia tidak akan pernah bisa menerjemahkan ”rasa” di balik sebuah tatapan mata atau jeda helaan napas seorang manusia. 

Hal-hal yang hanya sesama manusia bisa rasakan atau alami. Mesin tidak akan tahu bagaimana kemampuan beradaptasi seorang penerjemah, misalnya, dalam beradaptasi dengan gaya bicara dan sifat kliennya. 

Mesin juga tidak akan bisa menggantikan seorang guru bahasa dalam mengajarkan sebuah bahasa, termasuk bahasa Indonesia sendiri, kepada siswa-siswa yang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. 

Menghilangkan atau mengerdilkan jurusan bahasa dan humaniora demi efisiensi teknologi sama saja dengan mengebiri kemampuan bangsa ini untuk memahami manusia dan bangsa lain secara utuh. 

Menjinakkan Mesin: Tawaran Solusi di Ruang Kuliah

Menggugat pendewaan terhadap AI tentu tidak berarti kita harus mengisolasi diri, menolak kemajuan, dan berbalik menjadi kaum Luddite yang antiteknologi. Menolak AI di era modern ini adalah sebuah kesia-siaan yang naif. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana cara menghindari AI, melainkan bagaimana kita menggunakannya tanpa kehilangan jiwa kemanusiaan kita. 

Di sinilah ilmu humaniora harus mendefinisikan ulang perannya, bukan sebagai korban yang pasrah, melainkan sebagai nakhoda. Menjadi sang pengendali, pengatur, dan pengguna yang bijak.

Langkah solutif pertama harus dimulai dari reorientasi kurikulum humaniora itu sendiri. Lembaga pendidikan tinggi kita tidak boleh lagi mengajarkan bahasa, sastra, atau filsafat secara konvensional dan monoton. 

Kita harus berani mengawinkan ilmu humaniora dengan kesadaran digital. Mahasiswa bahasa, misalnya, harus diajak untuk membedah bagaimana AI bekerja, mengeksplorasi bias kultural yang ada di dalam algoritma buatan Barat atau Tiongkok, dan menggunakan pisau analisis kritis humaniora untuk mengoreksinya. 

Kita tidak sedang mencetak pengguna teknologi yang pasif, tetapi kritikus teknologi yang visioner.

Kedua, kita memerlukan pedagogi berbasis refleksi eksistensial. Di ruang kelas, tugas dosen tidak lagi mentransfer pengetahuan taksonomis yang dengan mudah bisa dicari lewat mesin pencari atau lewat generatif AI seperti Chat GPT. Tugas pendidik adalah menciptakan disonansi kognitif, memantik diskusi moral, dan menguji batas-batas etis. 

Ketika AI bisa menulis esai dalam hitungan detik, ujian bagi mahasiswa tidak boleh lagi sekadar meminta mereka menulis apa yang mereka ketahui, melainkan apa yang mereka rasakan dan bagaimana mereka memaknai pengetahuan tersebut bagi lingkungan sosialnya. Sentuhan personal itulah yang sepertinya bisa menjadi benteng pertahanan terakhir manusia.

Kategori :