Dunia Lebih Lebar daripada Bingkai AI: Melawan Kelatahan Tekno-Pragmatisme

Sabtu 27-06-2026,08:33 WIB
Oleh: David Segoh*

Ketiga, secara struktural, pemerintah dan pengambil kebijakan pendidikan di Indonesia mungkin sudah saatnya menciptakan sistem insentif lintas disiplin. Jangan biarkan dana riset dan perhatian nasional hanya tersedot pada proyek-proyek teknologi murni. 

Kita harus mendanai riset-riset hibrida: bagaimana etika lokal Nusantara bisa memandu pengembangan kecerdasan buatan atau bagaimana sastra dan seni bisa digunakan untuk menyembuhkan kecemasan mental generasi muda di era digital. 

Teknologi tanpa panduan humaniora adalah mesin liar tanpa kompas moral; ia bisa melaju sangat cepat, tetapi rawan menabrak kemanusiaan itu sendiri. Salah satu hal yang kami lakukan di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, adalah menawarkan mata kuliah yang berbasis digital dan teknologi, seperti digital literature and culture dan virtual learning and language assessment (VLLA). 

Sebagai salah seorang pengajar di mata kuliah VLLA, walaupun prodi kami bukanlah prodi kependidikan, kami sadar bahwa banyak lulusan kami yang akhirnya terjun menjadi pendidik, baik di lembaga formal maupun nonformal. 

Karena itu, kami berusaha membekali mereka dengan pengetahuan dan wawasan tentang penggunaan teknologi terkini dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa, seperti AI, augmented reality (AR), dan virtual reality (VR). 

Kami juga mengundang startup teknologi seperti PT Molca Teknologi Nusantara untuk memberikan kuliah tamu tentang penerapan teknologi-teknologi tersebut di dunia nyata dan bagaimana lulusan prodi bahasa bisa ikut berkontribusi. 

Dengan begitu, kami berharap agar mahasiswa dan lulusan kami tidak gagap akan perkembangan teknologi terkini dan siap bersaing di dunia kerja yang makin sinergis.

Ayo, Kembali ke Ruang yang Lebih Lebar

Tentu saja fondasi republik ini tidak didirikan di atas lempengan silikon atau sirkuit terpadu, tetapi di atas kesadaran kultural bersama, kecintaan akan tanah air yang satu, dan jembatan bahasa pemersatu. 

Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan 1945 adalah peristiwa-peristiwa humaniora terbesar dalam sejarah kita –sebuah keputusan berbasis rasa, visi, dan bahasa untuk mengikat keberagaman, bukan keputusan berbasis hitung-hitungan kalkulasi ekonomi semata.

Jika hari ini ikut-ikutan mengerdilkan ilmu-ilmu yang merawat nilai-nilai kemanusiaan, kita sepertinya sedang menciptakan masa depan yang mengerikan: generasi teknokratis yang andal merangkai kode dan membangun sistem, tetapi buta aksara secara budaya dan mati rasa secara sosial. 

Mereka mungkin bisa memecahkan masalah efisiensi teknis di industri, tetapi gagap saat dihadapkan pada pertanyaan eksistensial: untuk apa semua kecepatan ini diciptakan jika manusia di dalamnya justru merasa makin terasing dan kesepian dan justru dikendalikan oleh mesin-mesin tersebut?

Pada akhirnya, mari kita ingatkan diri kita sendiri bahwa dunia ini jauh lebih lebar daripada sekadar batas layar gawai dan algoritma AI. Kecerdasan artifisial mungkin bisa meramal tren pasar global, menghasilkan puisi tiruan seperti seorang pujangga terkenal yang terdengar indah, atau merancang cetak biru sebuah kota modern. 

Namun, mesin tidak akan pernah tahu rasanya mencintai tanah air dengan tulus. Ia tidak akan pernah memahami dinamika sosial budaya yang begitu beragam di negeri ini. Ia tidak memiliki jangkar etis untuk menangis melihat ketidakadilan dan tidak memiliki kesadaran spiritual untuk merajut tenun kebangsaan yang majemuk.

Biarkan negara lain mempertaruhkan seluruh peradabannya pada eksperimen teknokratis yang ”dingin”. Indonesia harus memilih jalan yang berbeda: jalan yang merawat teknologinya, tetapi sekaligus memuliakan manusianya. 

Sebab, di luar sana, di balik jendela komputasi yang serba terukur dan kaku itu, kehidupan manusia yang sesungguhnya –dengan segala keindahan, rasa, air mata, budaya, dan kearifannya– masih membentang sangat luas, menunggu untuk terus dipelajari, dicintai, dan dirayakan. (*)

Kategori :