Hari Keluarga Nasional dan Anak yang Kehilangan Tempat Pulang

Senin 29-06-2026,07:33 WIB
Oleh: Irwan Dwi Arianto*

Program seperti ayah antar sekolah dan ayah ambil rapor dapat menjadi simbol awal, tetapi tidak boleh dianggap solusi utama. Fatherless tidak selesai karena ayah hadir satu hari di sekolah. 

Fatherless hanya dapat dijawab melalui kehadiran yang konsisten, percakapan yang sehat, pembagian pengasuhan yang adil, dan keberanian keluarga untuk saling mendengar.

Fatherless juga tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan luka yang melukai orang lain. Luka masa kecil perlu diakui, tetapi tidak boleh berubah menjadi identitas korban yang permanen. Kesadaran keluarga harus bergerak dari menyalahkan menuju memulihkan.

Hari Keluarga Nasional 2026 harus menjadi peringatan dini. Fatherless bukan hanya tentang anak tanpa ayah. Fatherless adalah tanda bahwa sebagian anak Indonesia sedang kehilangan pengalaman untuk dicintai secara utuh. 

Keluarga Indonesia tidak cukup memiliki rumah yang layak huni. Keluarga Indonesia membutuhkan rumah yang layak menjadi tempat pulang hati. (*)

*) Irwan Dwi Arianto, kepala Laboratorium Integrated Digital UPN ”Veteran” Jawa Timur, founder ASIGTA, dan Dewan Pendidikan Kota Surabaya.

 

Kategori :