Peran Ayah, LGBT, dan Ancaman Nonmiliter

Peran Ayah, LGBT, dan Ancaman Nonmiliter

ILUSTRASI Peran Ayah, LGBT, dan Ancaman Nonmiliter.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PERUBAHAN lanskap ancaman terhadap bangsa Indonesia telah berkembang jauh, melampaui ancaman konvensional yang bersifat militer. Kemajuan teknologi informasi, globalisasi budaya, dan derasnya arus informasi digital telah melahirkan berbagai tantangan baru yang menyentuh ruang paling mendasar dalam kehidupan berbangsa, yaitu keluarga. 

Anak-anak dan remaja kini hidup dalam dunia tanpa batas. Berbagai ideologi, budaya, gaya hidup, hingga diskursus mengenai orientasi seksual dan identitas gender dapat diakses hanya melalui telepon genggam. 

Hal tersebut dapat membuat anak-anak terseret dalam penyalahgunaan narkotika, radikalisme, perjudian daring, pornografi, kekerasan siber, disinformasi, degradasi moral, dan berbagai pengaruh budaya global yang dapat memengaruhi perkembangan psikososial mereka. 

Dalam konteks itulah, pembangunan pertahanan negara tidak lagi cukup bertumpu pada kekuatan alutsista dan profesionalisme prajurit, tetapi juga memerlukan keluarga yang tangguh sebagai benteng pertama pembentukan karakter generasi penerus bangsa.

BACA JUGA:Prajurit Menjaga Negeri, Ayah Menjaga Generasi: Refleksi GATI dan GAMAS bagi Keluarga Prajurit TNI

BACA JUGA:Refleksi Harganas 2026: Menjemput Ayah yang Hilang di Rumah Sendiri

LGBT, Ancaman Nonmiliter

Melalui Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025, Presiden Prabowo Subianto menempatkan berbagai tantangan sosial, budaya, dan ideologi sebagai bagian dari ancaman nonmiliter. Dalam konteks tersebut, penyebaran budaya LGBT masuk dimensi sosial dan budaya. 

Terlepas dari berbagai perdebatan yang berkembang di tingkat akademik nasional maupun internasional, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa negara memandang penguatan karakter, nilai kebangsaan, dan ketahanan keluarga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pertahanan nasional.

Bagi prajurit TNI, isu tersebut memiliki makna yang lebih mendalam. Seorang prajurit mungkin mampu menjaga perbatasan negara dari ancaman militer, tetapi mobilitas prajurit yang sangat tinggi membuat mereka absen dalam pengasuhan anak dan keluarga. Kondisi itu berpotensi mengurangi intensitas interaksi antara ayah dan anak. 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan berkaitan dengan perkembangan emosi yang lebih sehat, kemampuan pengendalian diri yang lebih baik, komunikasi keluarga yang lebih kuat, dan menurunnya berbagai perilaku berisiko pada remaja. 

BACA JUGA:”Ayah Sejuta Anak” yang Dipuji dan Ditahan Polisi

BACA JUGA:Urgensi Revisi UU 32/2002 tentang Penyiaran, ketika Konten LGBT Marak di Media OTT

Dengan demikian, kehadiran ayah merupakan faktor protektif yang memperkuat ketahanan keluarga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: