Pak Tani Menanam Padi di… Mal!

Selasa 30-06-2026,14:48 WIB
Reporter : Doan Widhiandono
Editor : Noor Arief Prasetyo

ATRIUM sebuah pusat perbelanjaan di Kota Ningbo, Tiongkok timur, mendadak berubah menjadi hamparan sawah berlumpur pada 21 Juni 2026. Lantai yang biasanya dipenuhi etalase dan langkah para pemburu diskon kali ini dipenuhi jejak kaki bersepatu bot.

Di tengah keramaian mal, puluhan orang berbaris menancapkan bibit padi satu per satu, seolah musim tanam sedang berlangsung di tengah kota.

Suasana itu terasa ganjil. Tapi memikat. Para peserta datang mengenakan caping, sepatu bot, dan pakaian ala petani. Sebagian memang petani sungguhan, sebagian lain warga kota yang ingin mencoba pengalaman berbeda.

Lumpur yang menempel di tangan dan pakaian tidak mengurangi semangat mereka. Justru sebaliknya, mereka tetap tampil rapi, percaya diri, bahkan fotogenik. Sawah dadakan itu berubah menjadi panggung yang mempertemukan tradisi dengan gaya hidup urban.

BACA JUGA:Tiongkok Menutup 12 Ribu Program Studi di Seluruh Negeri, Siapkan Masa Depan untuk Era AI

BACA JUGA:Cuju, Olahraga Kuno Tiongkok yang Diakui FIFA sebagai Cikal Bakal Sepak Bola

Kontes tersebut bukan sekadar perlombaan memindahkan bibit padi secepat dan serapi mungkin. Di balik lumpur yang memenuhi atrium, tersimpan upaya mengingatkan masyarakat kota tentang keterampilan yang selama ribuan tahun menopang peradaban Tiongkok. 

Pengunjung mal yang biasanya hanya berpapasan dengan produk-produk modern kini bisa menyaksikan langsung bagaimana padi ditanam, pekerjaan yang selama ini identik dengan pedesaan.

Momentum itu terasa menarik karena berlangsung ketika posisi Tiongkok dalam peta produksi beras dunia sedang berubah. Selama bertahun-tahun negara ini dikenal sebagai produsen padi terbesar di dunia. Namun pada 2025, India mengambil alih posisi tersebut setelah menghasilkan sekitar 150 juta ton beras, sedikit di atas produksi Tiongkok yang mencapai 145 juta ton.


ATRIUM MAL yang berubah menjadi sawah di Ningbo, Provinsi Zhejiang, Tiongkok.-HECTOR RETAMAL-AFP-

Meski demikian, angka produksi tidak sepenuhnya menggambarkan kekuatan pertanian kedua negara. India menanam padi di sekitar 44 juta hektare lahan, sedangkan Tiongkok justru mengurangi areal tanamnya menjadi sekitar 28 juta hektare. Dengan lahan yang jauh lebih sempit, selisih produksi keduanya hanya sekitar lima juta ton.

Di situlah keunggulan Tiongkok masih terlihat. Produktivitas padinya mendekati empat ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan India yang rata-rata sekitar 3,5 ton per hektare. Artinya, setiap petak sawah di Tiongkok masih mampu menghasilkan panen yang lebih efisien.

Karena itu, sawah kecil di tengah atrium Ningbo terasa lebih dari sekadar tontonan akhir pekan. Lumpur yang dibawa masuk ke dalam mal seakan menjadi pengingat bahwa di balik gedung-gedung tinggi dan pusat perbelanjaan modern, identitas agraris Tiongkok belum benar-benar ditinggalkan. Tradisi itu tetap dirawat, meski kini tampil dengan panggung yang sama sekali tak biasa. (*)

 

Kategori :