Besarnya minat tersebut menunjukkan bahwa pasar robot konsumen di Tiongkok mulai bergerak dari tahap demonstrasi teknologi menuju komersialisasi. Selama ini, humanoid lebih banyak diperkenalkan sebagai pekerja pabrik, robot logistik, atau platform penelitian. Kini sasaran utamanya bergeser ke ruang keluarga.
Perubahan orientasi itu juga terlihat dari cara UBTECH memasarkan produknya. Alih-alih menonjolkan kekuatan mekanis atau kecepatan berjalan, perusahaan justru mengedepankan konsep "pendamping emosional".
Video promosi lebih banyak menampilkan ekspresi wajah, tatapan mata, dan gestur halus dibanding demonstrasi kemampuan mengangkat barang atau bekerja di lingkungan industri.
Pendekatan tersebut sejalan dengan tren baru industri kecerdasan buatan di Tiongkok yang mulai memadukan model bahasa besar dengan robot humanoid. Persaingan tidak lagi berhenti pada kemampuan menjawab pertanyaan, tetapi berkembang menuju kemampuan memahami konteks sosial, membangun memori jangka panjang, dan menghadirkan pengalaman interaksi yang terasa alami.
ROBOT CANTIK ini dilengkapi kecerdasan buatan sehingga bisa menampilkan sisi emosi seperti manusia.-ADEK BERRY-AFP-
Meski demikian, kemunculan humanoid realistis juga memunculkan perdebatan.
Di media sosial, sebagian pengguna menyebut robot tersebut sebagai lompatan besar dalam hubungan manusia dan mesin. Kemampuan mengingat percakapan dinilai dapat membuat interaksi terasa lebih personal, terutama bagi kelompok lanjut usia atau masyarakat yang hidup sendiri.
Sebaliknya, tidak sedikit yang merasa terganggu oleh tampilannya yang terlalu menyerupai manusia. Beberapa komentar menyebut ekspresinya justru terlihat menyeramkan. Ada pula yang mempertanyakan sejauh mana data pribadi pengguna benar-benar aman ketika robot mampu menyimpan memori interaksi sehari-hari.
Kekhawatiran lain muncul karena video promosi belum banyak memperlihatkan kemampuan berjalan maupun aktivitas kompleks sehingga sebagian warganet menilai demonstrasi tersebut masih terlalu terbatas.
Perdebatan itu memperlihatkan bahwa tantangan industri humanoid kini bukan semata persoalan rekayasa mekanik. Yang dipertaruhkan adalah penerimaan sosial.
Semakin realistis sebuah robot, semakin tinggi pula ekspektasi manusia terhadap perilakunya. Sedikit gerakan yang terasa tidak alami dapat memunculkan kesan ganjil. Sebaliknya, ketika robot mampu menampilkan ekspresi, mengingat pengalaman bersama pengguna, serta merespons secara emosional, batas antara mesin dan manusia menjadi semakin tipis.
Peluncuran U1 Pro menunjukkan bahwa perlombaan humanoid telah memasuki fase baru. Fokusnya bukan lagi membuat robot bisa bergerak seperti manusia, melainkan membuat manusia merasa nyaman hidup berdampingan dengannya.
Dan di Tiongkok, perlombaan itu tampaknya baru saja dimulai… (*)