Mantan pejabat Pentagon berkomentar. ”Mereka ingin putus tali pusar. Tetapi, masih minta susu.”
Skizofrenia, kata para diplomat. Saya menyebutnya lagu cinta yang salah irama.
Lalu, negosiasi dengan Iran di Doha, 2 Juli, berakhir tanpa terobosan. Iran menolak akses IAEA ke fasilitas nuklir mereka yang sudah dua kali dibom. Israel mengancam serangan ketiga. Iran mengancam balasan. AS mengerutkan dahi.
Politik luar negeri goyah. Kebijakan militer ikut goyah. Anda tak bisa membangun strategi jangka panjang jika peta politik digambar ulang setiap hari.
Itulah Israel hari ini. Sebuah orkestra dengan dua konduktor. Masing-masing memimpin lagu berbeda.
Lawan Diri Sendiri
Oktober 2026. Pemilu. Panggung politik lebih sengit dari medan tempur. Di Gaza, tembakan masih terdengar. Di Knesset, tembakan lebih keras.
Netanyahu dan Eizenkot saling serang. Eizenkot kehilangan putra di Gaza. Ia memakai duka itu sebagai batu loncatan. Ia berteriak tentang ”kemenangan total”. Konsep yang bahkan Pentagon tak berani definisikan. Kata orang, jika Anda tak bisa mendefinisikan kemenangan, Anda akan berperang selamanya.
Di tengah semua itu, Knesset memberikan persetujuan awal pada RUU yang menjadikan studi Taurat sebagai nilai konstitusional. Efeknya, penghindaran wajib militer bagi ultrartodoks dilegalkan.
Bayangkan. Tentara kekurangan 20.000 prajurit. Tiga front masih panas. Prajurit cadangan kelelahan. Mereka justru mengurangi jumlah orang yang bisa memegang senjata. Komandan lapangan berteriak. ”Kami sudah kekurangan orang. Mereka sibuk ribut filosofi.”
Ini kanibalisme. Ibarat Anda makan diri sendiri untuk mempertahankan kursi.
Lalu, soal Iran. Netanyahu menyampaikan telah ”menyelamatkan Israel dari bom atom”. Eizenkot dan oposisi membalas, ”dia melebih-lebihkan ancaman untuk menebar ketakutan publik menjelang pemilu.”
Pelajari untuk Kita
Dari semua kekacauan ini, kita belajar beberapa hal. Tentu saya tidak ingin menggiring Anda ke satu kesimpulan. Sebab, perang dan pelajaran dari perang selalu menyisakan ruang untuk refleksi. Refleksi itu, jika dikelola, justru bisa jadi arah.
Pertama, kekuatan tanpa strategi adalah kemenangan hampa. Israel membuktikannya. Mereka kuasai 70 persen Gaza, duduki Lebanon Selatan, tetapi tak punya tujuan akhir. Indonesia harus ingat, membangun kekuatan tempur tanpa membangun diplomasi yang menyertai itu seperti membeli pedang mahal, tetapi lupa belajar cara menyimpannya dengan baik. Seorang jenderal tua berkata, ”senjata ibarat lidah diplomat. Jika diplomat membisu, senjata bisa bicara sendiri, dan biasanya bicara dengan kata kasar.”
Kedua, politik pecah belah adalah musuh terbesar. Israel bertempur satu tangan, tangan lainnya sibuk berkelahi dengan diri sendiri. Mereka mempertahankan RUU ultraortodoks, sementara tentara mulai kehabisan napas.