Status Kiamat Defcon 2

Status Kiamat Defcon 2

ILUSTRASI Status Kiamat Defcon 2.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PUKUL 4 pagi di Washington. Pukul 11 siang di Teheran. Pukul 4 sore di Bali. Tiga titik waktu yang berbeda, tetapi terikat oleh satu benang merah yang sama: ketegangan yang tidak pernah setinggi ini sejak era Krisis Rudal Kuba.

Dalam sepekan terakhir, layar pemantau militer dan ekonomi global berdenyut tidak karuan. Sebuah istilah dari era Perang Dingindefcon (defense readiness condition) 2– kembali menghiasi diskusi publik. Menariknya, penting untuk dipahami sejak awal: status itu adalah klasifikasi internal militer Amerika Serikat (AS) yang tidak pernah diumumkan secara resmi. 

Yang terjadi di ruang publik saat ini adalah asesmen kolektif dari komunitas pengamat independen, yang merangkai potongan-potongan sinyal menjadi sebuah gambaran utuh tentang tingkat siaga tertinggi selain perang total.

Pertanyaannya: seberapa akurat gambaran itu dan seberapa dalam dampaknya terhadap kita?

BACA JUGA:Menjaga Nadi Digital di Selat Hormuz: Mengantisipasi 'Kiamat' Internet Global

AS dan Geliat Mesin Perangnya

Dalam 72 jam terakhir, sejumlah pergerakan militer AS terekam dengan jelas. Pesawat komando nuklir E-4B Nightwatch –pesawat yang hanya diterbangkan dalam situasi krisis ekstrem– terpantau meninggalkan pangkalannya. 

Secara resmi, itu disebut sebagai latihan rutin. Dalam logika militer, memang benar bahwa latihan adalah bagian dari kesiapan. Namun, waktu pelaksanaannya –di saat tebing ketegangan sedang runtuh– mengubah latihan menjadi pernyataan.

Di daratan AS, enam pesawat pengebom siluman B-2 Spirit terlihat dalam posisi siaga di landasan. Pesawat itu dirancang untuk menembus pertahanan udara tercanggih sekalipun dan telah digunakan dalam operasi nyata beberapa bulan sebelumnya. 

Status siaga 15 menit bukanlah isapan jempol. Itu adalah protokol yang mengharuskan awak pesawat, sistem persenjataan, dan bahan bakar berada dalam kondisi ”siap luncur” hampir sepanjang waktu. 

Namun, perlu dicatat bahwa siaga tidak sama dengan eksekusi. Ada rantai komando yang panjang dan berlapis sebelum tombol penghancur benar-benar ditekan.

Armada laut juga menunjukkan pola yang sama. Kapal induk USS Abraham Lincoln dan seluruh grup penyerangnya menghilang dari layar pelacak sipil. 

Dalam istilah militer, itu disebut emcon (emission control) atau pengendalian emisi. Yakni, taktik untuk menyembunyikan posisi dari musuh. Di laut, menghilang berarti mendekat. Mendekat berarti ancaman.

Iran dan Strategi Asimetrinya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: