Moderasi Beragama di Lapangan Bola

Selasa 07-07-2026,07:33 WIB
Oleh: Mohamad Ali Hisyam*

Moralitas dalam sepak bola mengajarkan bahwa lawan bukanlah musuh yang harus dimusnahkan secara eksistensial, tetapi mitra tanding yang tanpanya permainan tidak akan terjadi. Itulah inti dari sikap moderat: kemampuan untuk memegang teguh keyakinan diri tanpa harus merendahkan keyakinan orang lain.

Moderasi beragama dalam olahraga muncul ketika seorang pemain bisa merayakan gol dengan doa sesuai agamanya, sementara rekan setimnya yang berbeda keyakinan merangkulnya dengan rasa hormat. Lapangan hijau menjadi ruang tempat perbedaan teologis dilebur oleh satu semangat kemanusiaan yang adil dan beradab.

Di aras kultural, sepak bola memiliki kekuatan untuk mendobrak dinding-dinding sektarian. Kita melihat bagaimana Mohamed Salah atau Karim Benzema telah menjadi duta tak resmi bagi wajah agama yang ramah dan inklusif. Mereka tidak berdakwah dengan kata-kata, tetapi dengan etos kerja dan karakter.

Prasangka lama harus didekonstruksi. Saat suporter menyanyikan lagu pujian untuk pemain muslim, mereka sebenarnya sedang merayakan pluralisme. Itu adalah bentuk pengakuan bahwa kesalehan seseorang tidak menghalanginya untuk menjadi pahlawan bagi semua golongan.

Meskipun kemajuan telah terlihat, tantangan berupa rasisme dan fobia agama tetap mengintai. Insiden yang menimpa komunitas muslim di stadion-stadion adalah pengingat bahwa literasi budaya dan agama masih harus terus diperjuangkan. Olahraga harus tetap menjadi wilayah ”suci” dari polusi kebencian.

Lapangan yang Inklusif

Dus, sepak bola adalah bahasa universal. Ketika bola bergulir, identitas ras, etnis, dan agama melebur dalam satu napas kompetisi yang sehat. Sikap Lamine Yamal dan transformasi kesadaran para insan olahraga saat ini memberi kita harapan bahwa masa depan dunia adalah masa depan yang moderat.

Kita belajar bahwa selebrasi bukan tentang kesombongan, melainkan tentang kegembiraan bersama. Jika dunia bisa belajar dari cara pemain saling menghormati perbedaan di tengah tensi pertandingan, moderasi beragama bukan lagi sekadar slogan, melainkan sebuah kenyataan hidup yang indah.

Sepak bola adalah sebuah traktat perdamaian yang ditulis di atas rumput. Ia adalah mikrokosmos tempat moderasi bukan lagi sekadar jargon politik atau materi khotbah yang membosankan. Ia sebuah kebutuhan organik. 

Di lapangan, moderasi adalah kemampuan untuk mengakui bahwa rekan setimmu yang berdoa dengan cara berbeda adalah saudara sejiwa dalam mengejar kemenangan yang sama.

Maka, fanatisme agama sebenarnya berlawanan dengan semangat sportivitas. Jika di dalam lapangan seorang pemain bisa menerima keputusan wasit yang tak memihak, mengapa di luar lapangan kita begitu sulit menerima keberadaan manusia yang memilih jalan Tuhan yang berbeda?

Kita sedang menyaksikan pergeseran budaya. Jika dulu selebrasi religius dianggap sebagai ”gangguan” terhadap sekularisme olahraga, kini ia adalah bagian dari keragaman yang memperkaya. 

Ketika Mohamed Salah bersujud di Anfield, atau ketika para pemain menghentikan pertandingan sejenak untuk berbuka puasa, kita sedang melihat moderasi yang bekerja secara sublim.

Namun, keberanian Yamal mengingatkan kita bahwa stadion sering kali menjadi tempat di mana manusia melepaskan sisi paling purba: hasrat untuk merendahkan orang lain agar merasa lebih tinggi. Di sinilah moderasi beragama harus berkelindan dengan literasi kemanusiaan.

Yang jelas, sepak bola mengajari kita satu hal sederhana: bola itu bundar. Bumi pun demikian. Kita semua berputar di poros yang sama. Jika kita gagal bersikap moderat dan manusiawi di dalam stadion yang sempit, bagaimana mungkin kita bisa menjaga kemanusiaan di dunia yang tanpa batas?

Ingatlah pesan ikonik seorang Mesut Oezil, ”saya orang Jerman ketika kita menang, tapi saya imigran ketika kita kalah.” Kalimat seorang korban diskriminasi yang menyengat.

Kategori :