Kasus-kasus di atas membuktikan bahwa meskipun teknologi dan regulasi (seperti kampanye say no to racism) terus berkembang, akar kebencian SARA masih mengintai dalam budaya sepak bola global.
Yamal telah menendang bola kesadaran itu ke gawang kita semua. Tinggal kita, mau menangkapnya sebagai pelajaran atau membiarkannya berlalu sebagai sekadar berita di kolom olahraga.
Kita beruntung karena di turnamen besar seperti Piala Dunia kali ini, FIFA berusaha menghormati nilai-nilai keagamaan para pemain dan seluruh aktor lapangan hijau. FIFA, misalnya, bersedia menyediakan latar belakang (backdrop) tanpa logo sponsor bir saat penyerahan gelar player of the match serta mengapus logo minuman alkohol di trofi Piala Dunia 2026 demi menghormati pemain muslim.
FIFA juga tidak melarang gaya selebrasi dan gestur personal seperti ekspresi sujud, simbol berdoa, tanda salib, atau lainnya sepanjang tidak berlebihan dan bernada provokatif. (*)
*) Mohamad Ali Hisyam, penikmat sepak bola, akademisi di Universitas Trunodjoyo Madura.