Moderasi Beragama di Lapangan Bola

Selasa 07-07-2026,07:33 WIB
Oleh: Mohamad Ali Hisyam*

BEBERAPA waktu lalu, tepatnya awal April 2026, kita dikejutkan oleh aksi ngambek seorang Lamine Yamal. Talenta muda asal klub Barcelona itu murka atas aksi sekelompok suporter timnas Spanyol yang menyanyikan chant bernada antimuslim di lapangan. Aksi tersebut terjadi seusai laga uji coba Spanyol versus Mesir menjelang turnamen Piala Dunia 2026.

Kasus serupa itu sebenarnya mengikuti pola yang sudah berulang di sepak bola. Bedanya, konteksnya kini melebar dari sekadar rasisme berbasis warna kulit ke isu agama dan identitas. Rasisme serupa pernah menimpa Vinicius Jr, Mesut Oezil, Karim Benzema, Dani Alves, dan pesepak bola yang lain. 

Polanya adalah menjadikan stadion sebagai ”ruang bebas tanpa filter”. Jika dulu banyak dipicu oleh faktor ras (warna kulit), kini mulai melebar ke soal etnis, agama, bahkan politik. Darah muda seperti Yamal cenderung lebih emosional dan tidak mau diam terhadap diskriminasi. 

Intinya, hal itu bukan insiden tunggal, tapi bagian dari tren yang lebih luas bahwa sepak bola masih bergulat dengan intoleransi. Hal tersebut semacam ”persimpangan baru” dalam masalah lama (diskriminasi).

BACA JUGA:Tantangan Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama

BACA JUGA:Mencegah Konflik, Mengembangkan Moderasi Beragama

Yang jelas, sepak bola bukan sekadar permainan sebelas lawan sebelas yang mengejar bola kulit di atas hamparan rumput. Ia adalah sebuah mikrokosmos peradaban. Di dalam stadion yang riuh, kita tidak hanya menyaksikan adu taktik dan fisik, tetapi juga benturan serta perpaduan nilai-nilai kebudayaan, identitas, dan keyakinan. 

Di era kontemporer ini, sepak bola telah menjelma menjadi mimbar unik bagi pesan moderasi beragama. Sebuah sikap moderat yang menjunjung tinggi martabat manusia di atas fanatisme buta.

Kemanusiaan yang Offside

Sejarah mencatat bahwa lapangan hijau tidak selalu ramah terhadap perbedaan. Kita diingatkan pada komentar dingin Gary Lineker di masa lalu yang menyamakan aksi selebrasi sujud syukur pemain muslim dengan perilaku ”hewan yang memakan rumput”. 

Secara semiotik, komentar tersebut bukan sekadar kekeliruan diksi, melainkan sebuah kegagalan empati yang mendalam. Ketika sebuah simbol sakral (sujud) direduksi menjadi perilaku instingtif hewani, di sanalah sportivitas sedang sekarat.

BACA JUGA:Moderasi Beragama Kunci Harmoni dan Perdamaian di Tengah Keberagaman

BACA JUGA:Usung Moderasi Beragama, Kuatkan Nasionalisme

Karena itu, sikap berani Yamal adalah manifestasi dari ”pemberontakan moral”. Ia membuktikan bahwa menjadi atlet hebat berarti juga menjadi manusia yang utuh. Insan yang tidak membiarkan kebencian bersemi di tribun penonton.

Secara filosofis, sportivitas memiliki napas yang sama dengan moderasi beragama. Keduanya menuntut adanya pengakuan terhadap ”yang lain” (the other). Albert Camus, filsuf eksistensialis yang juga mantan penjaga gawang (kiper), pernah berujar, ”semua yang aku ketahui tentang moralitas dan kewajiban manusia, aku pelajari dari sepak bola.”

Kategori :