KONSOLIDASI perbankan syariah membawa hasil signifikan. Aset naik konsisten dan kini menembus Rp1.000 triliun. Tepatnya, per Maret 2026, aset naik 10,49 persen year-on-year (yoy) menjadi Rp1.061,6 triliun.
Dengan aset itu, kini market share perbankan syariah berada pada 7,51 persen. Bank umum syariah berkontribusi sebesar 76,08 persen, unit usaha syariah (UUS) 21,47 persen, dan bank perekonomian rakyat syariah (BPRS) 2,45 persen.
Secara umum, kinerja perbankan syariah sangat baik. Dana pihak ketiga (DPK) naik 11,14 persen yoy menjadi Rp811,76 triliun. Kinerja intermediasi juga sangat baik yang ditunjukkan dengan FDR hingga 87,65 persen. Pembiayaan perbankan syariah mencapai Rp716,4 triliun.
Bukan hanya itu, kinerja utama perbankan, yaitu pembiayaan, juga sangat baik. Itu tecermin dari non-performing financing (NPF) yang cukup rendah. Rasio NPF –pembiayaan bermasalah– gross ada di 2,28 persen, sedangkan NPF nett 0,87 persen. Cukup jauh dari ambang toleransi 5 persen.
BACA JUGA:Bagi Hasil Bagi Risiko di Bank Syariah
BACA JUGA:Bos Bank Himbara Dipanggil ke Istana, Rosan Ungkap Pesan Prabowo!
Kinerja perbankan yang sangat baik itu tak lepas dari berbagai konsolidasi perbankan syariah. Termasuk di antaranya dampak dari merger tiga bank syariah milik BUMN, yaitu Bank Syariah Mandiri (BSM), BNI Syariah, dan BRI Syariah, menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).
Saat ini BSI menjadi bank syariah dengan aset sangat besar. Bahkan, BSI kini tidak lagi berstatus anak perusahaan BUMN, tapi kini telah menjadi BUMN. BSI tidak lagi dikendalikan pemegang saham lama mereka, Bank Mandiri, Bank BNI, dan Bank BRI, yang tentunya ada banyak konflik kepentingan.
Per April, aset BSI mencapai Rp452 triliun dan berhasil mencatatkan laba bersih pada triwulan I 2026 sebesar Rp2,2 triliun. BSI menjadi bank terbesar keenam di Indonesia. Selain itu, BSI tercatat masuk sepuluh bank syariah terbesar di dunia berdasar kapitalisasi pasarnya.
Perbankan syariah juga ditopang oleh bank syariah baru, Bank Syariah Nasional (BSN). Bank umum hasil spin off BTN Syariah itu mengakuisisi Bank Victoria Syariah sehingga asetnya melonjak hingga 2.000 persen. Dana pihak ketiga, bahkan, naik hingga 4.000 persen. Per April, aset BSN telah mencapai Rp76 triliun dan menjadi bank umum syariah terbesar kedua setelah BSI.
Makin besarnya aset beberapa bank syariah itu akan menjadi trigger bagi pengembangan perbankan syariah yang kian cepat. Sebab, selama ini kendala utama perbankan syariah adalah efisiensi yang relatif rendah karena faktor size of business. Dengan economic of scale yang makin besar, perbankan syariah akan makin efisien. Itu akan menjadi daya tarik bagi perbankan syariah ke depan.
Sebenarnya perbankan syariah memiliki kekuatan tersendiri. Sebab, bank syariah memiliki layanan perbankan yang sangat lengkap.
Berbeda dengan bank konvensional yang semuanya menggunakan instrumen bunga, perbankan syariah memiliki berbagai macam akad yang bisa dipilih para nasabah. Bank syariah juga memberikan pelayanan atau jasa keuangan yang lebih luas seperti penetapan BSI sebagai bullion bank, adanya layanan gadai emas, layanan cicil emas, dan sebagainya.
Fleksibilitas pembiayaan di bank syariah juga bisa menjadi kekuatan. Di satu sisi, misalnya, ada pembiayaan berbasis certainty contract –memberikan pendapatan tetap dan pasti. Di sisi lain, bank syariah juga memberikan pilihan layanan pembiayaan berbasis uncertainty contract. Dengan akad mudharabah atau musyarakah.
Pembiayaan itu memungkinkan bank syariah memperoleh pendapatan yang jauh lebih besar –sekaligus memiliki risiko yang lebih tinggi. Jika bisa memitigasi risiko dengan baik, pembiayaan tersebut tentunya bisa menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan bagi bank syariah.