Korupsi Kaum Terpelajar dan Nasihat Buya Syafii

Kamis 09-07-2026,21:51 WIB
Oleh: Biyanto*

SEMASA hidup, Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii) dikenal sebagai sosok yang senantiasa risau dengan kondisi negeri. Salah satu pemicu kerisauan Buya adalah kasus korupsi yang terus menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Buya mengibaratkan fenomena korupsi di negeri tercinta layaknya penyakit kanker stadium empat. Sel kankernya sudah menjalar ke seluruh tubuh. 

Kasus korupsi sudah demikian menggurita dan mengakar di sejumlah institusi publik. Pemberitaan penangkapan pejabat publik di berbagai media pun terasa biasa. Hal itu karena tiada hari tanpa berita yang berkaitan dengan kasus korupsi. 

Dari pemberitaan di media, setidaknya sudah ada 13 kepala daerah, yakni gubernur, bupati, dan wali kota, yang terjaring operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Hal itu terjadi sejak masa pelantikan kepala daerah pada Februari 2025 hingga akhir Juni 2026. Jumlah tersebut belum termasuk pejabat setingkat menteri, wakil menteri, aparat kejaksaan, dan kepala dinas di daerah. 

BACA JUGA:Mengenang Khazanah Intelektualisme Buya Syafii

BACA JUGA:Muslim dan Wajah Korupsi

Latar belakang sosial pelaku korupsi juga makin beragam. Mereka berasal dari kalangan birokrat, politisi, TNI dan Polri, aparat penegak hukum, pihak swasta, tokoh agama, dan akademisi. 

Yang menarik dicermati, umumnya mereka yang terlibat kasus korupsi adalah kelompok terpelajar. Mereka pernah mengenyam pendidikan tinggi dengan gelar kesarjanaan mentereng, mulai sarjana (S-1), magister (S-2), hingga doktor (S-3). 

Keterlibatan kelompok terpelajar dalam berbagai kasus korupsi tentu menyisakan keprihatinan. Sebab, sejatinya mereka memiliki modal berharga sebelum menjadi abdi negara dan pejabat publik, yakni seperangkat ilmu pengetahuan.

Modal Integritas 

Begitu cintanya kepada negeri ini, Buya Syafii berpesan kepada kaum cerdik cendekia yang menjadi pejabat di berbagai birokrasi pemerintahan. Inti dari pesan Buya adalah kaum terdidik yang memperoleh amanah sebagai pejabat publik tidak hanya bermodal ilmu pengetahuan dari bangku kuliah. Kaum cerdik cendekia juga harus membekali diri dengan moral atau akhlak. 

Modal akhlak itu bersifat universal karena berlaku bagi siapa pun dan apa pun agamanya. Persoalan akhlak penting karena berkaitan dengan integritas seseorang. 

Menurut Buya Syafii, perspektif moral dapat digunakan untuk menilai apakah seseorang yang terpelajar itu telah berkhianat, terpeleset, tertipu, khilaf, naif, atau tidak paham dengan medan pergaulan sehingga salah melangkah tatkala aktif menjadi abdi negara. 

Nasihat Buya disampaikan seraya merujuk karya filsuf dan novelis asal Prancis, Julien Benda, yang berjudul The Betrayal of the Intellectuals (Pengkhianatan Kaum Intelektual, 1997). Dalam karya masyhurnya itu, Julien Benda menyatakan bahwa salah satu pemicu kaum intelektual melakukan pengkhianatan adalah terlalu jauh terlibat permainan politik dan kekuasaan. 

Syahwat alias hasrat yang begitu tinggi terhadap politik dan kekuasaan menjadikan kaum intelektual melupakan nilai-nilai moral keagamaan. Peningkatan syahwat politik dan kekuasaan juga menjadikan kaum intelektual melakukan segala cara untuk mencapai tujuan. 

Kategori :