Atas nama keamanan, saya sempat berjanji sekitar setahun lalu untuk tidak menyeberangi jembatan kaca di kawasan wisata Bromo. Namun, janji itu saya ingkari dengan riang saat pre-launching hari kedua jembatan bernama resmi Bromo Sky Bridge di Seruni Point tersebut.
GARA-GARA Agustina Setiarini, ketua DPC HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Surabaya, saya melanggar janji. Bersama Andyka Puspitasari dan Laksmi Alleya Sahwahita, adik dan keponakannya, Tina mengajak saya menikmati dinginnya Bromo pada 28 Juni 2026.
Sejak dari Surabaya, tujuan kami memang Seruni Point. Sebab, kami ingin sarapan di Kopi Dewa 19. Kafe yang sedang viral dan membuat bangga warga Surabaya itu terletak di dekat jembatan kaca.
Sembari sarapan, kami bisa menyaksikan anggunnya kawasan Kaldera Tengger yang "menghimpun" beberapa gunung sekaligus. Bromo, Batok, Widodaren, Kursi, dan Watangan. Gunung Semeru berdiri gagah melatari pemandangan Kaldera Tengger.
BACA JUGA:Kopi Lereng Bromo: Menjaga Alam, Menghidupi Desa
BACA JUGA:Jeep Wisata Bromo Mau Distandarisasi, Pemprov Jatim Siapkan Aturan Baru
"Pemandangan" lain yang menarik adalah kesibukan petugas yang mengelap lantai kaca dari embun yang membasahinya. Itulah jembatan yang saya "takuti".
Sambil mengamati aktivitas di sana, saya kemudian berbincang dengan seorang pengunjung kafe. Bincang santai bin basa-basi itu berubah menjadi menarik ketika saya tahu bahwa pemuda di depan saya bekerja di jembatan kaca tersebut.
KOPI DEWA 19 menarik untuk disinggahi sembari menyaksikan keramaian Bromo Sky Bridge di Seruni Point. Penulis nongkrong di kafe milik Ahmad Dhani itu bersama Agustina Setiarini (tengah).--Yoni Astuti untuk Harian Disway
"Namanya Bromo Sky Bridge," katanya menerangkan nama jembatan kaca itu kepada saya. Mumpung bertemu dengan pihak yang kompeten, saya pun bertanya banyak hal tentang jembatan kaca itu. Terutama, soal keamanannya!
"Saya takut meluncur ke dasar jurang kalau jembatannya tidak kuat menopang tubuh saya." Saya ungkapkan kekhawatiran saya dengan jujur kepadanya.
BACA JUGA:Bromo KOM 2026 Bawa Berkah bagi Kabupaten Pasuruan, Wisata hingga UMKM Bergeliat
BACA JUGA:Sekda Kabupaten Pasuruan Pimpin Koordinasi Lintas Sektor Bromo Kom 2026
"Ibu tidak perlu khawatir. Jembatannya kuat. Di sana juga ada petugas yang menemani dan membantu wisatawan agar tetap nyaman saat melintasinya," kata lelaki yang belakangan saya ketahui bernama Ugik, kependekan dari Sugiyanto.
Obrolan makin seru ketika Tina, Sari, dan Sahwa ikut nimbrung. Ketika kemudian hari itu Bromo Sky Bridge dibuka untuk wisatawan pada pukul 08.00 WIB, kami tergiur untuk menjajalnya. Saya yang tadinya tak tertarik, menjadi penasaran setelah dikompori Sari dan Sahwa.
Demi keamanan, para wisatawan harus mematuhi peraturan. Salah satu yang terpenting adalah memakai kaos kaki antiselip yang disediakan pengelola. Wisatawan juga hanya diperkenankan membawa ponsel.
Itu pun harus dipegang erat-erat agar tidak jatuh ke jembatan atau ke jurang. Apabila membawa kamera, wisatawan wajib mengalungkan talinya ke leher.
BACA JUGA:Dari Hutan Menuju Harapan: Transformasi Mindset Korporasi dalam Mengelola Ekosistem Bromo
BACA JUGA:Memanen Karbon, Menuai Sarjana dari Lereng Bromo
PENULIS (kiri) bersama Laksmi Alleya Sahwahita dan Andyka Puspitasari (kanan) menikmati pemandangan alam yang menakjubkan dari Bromo Sky Bridge pada 28 Juni 2026.--Yoni Astuti untuk Harian Disway
Tas dan sepatu disimpan di loker yang sudah disediakan. Selama berjalan di atas jembatan kaca itu, wisatawan juga harus tenang. Dilarang lari-lari, atau berlompatan.
"Wisatawan juga tidak boleh memegang pagar jembatan, apalagi bersandar di sana," terang petugas yang mendampingi kami.
Di Bromo Sky Bridge itu, kami bertemu lagi dengan Ugik. Pria lulusan UINSA Surabaya itu mengimbau kepada para wisatawan agar tidak panik.
"Tarik napas panjang dan keluarkan perlahan. Masukkan energi positif supaya tenang dan bahagia. Saya akan membantu memotret dan membuat video perjalanan Ibu-Ibu sekalian," paparnya.
BACA JUGA:Menebus “Dosa” Industri: Dari Asap Pabrik Menjadi Jaminan Masa Depan Anak Cucu Bromo
BACA JUGA:Bupati Pasuruan Sambut Gembira Pitstop Bromo Kom Pindah di Kabupaten Pasuruan
Kata-kata yang menenangkan. Dan, memang saya perlukan dalam kondisi itu. Alas jembatan sedikit menurun di ujung titik awal perjalanan. Saya bergandengan dengan Sari dan Sahwa. Kami saling menguatkan demi sukses menyusuri jembatan kaca sepanjang 130 meter tersebut.
Jembatan selebar 1,8 meter itu berlantaikan laminated glass berbahan tempered glass dengan lapisan SentryGlass Plus (SGP) setebal 25,52 milimeter.