BROMO SKY BRIDGE sepanjang 130 meter menggoda para wisatawan untuk menyusurinya. --Yoni Astuti untuk Harian Disway
Ketika sampai di area yang landai, kami perlahan melepaskan gandengan. Tubuh saya sudah mampu beradaptasi dengan ketinggian, dan mata serta kepala saya sudah terbiasa dengan penampakan jembatan kaca tersebut.
Seperti saran Ugik, saya menarik napas panjang berulang kali sampai dada tidak berdegup kencang. Alhamdulillah manjur. Urat di wajah melentur dan bibir mulai merekahkan senyuman. Saya bahkan bisa bergaya di atas jembatan, dengan memutarkan badan dan menari pelan.
BACA JUGA:Wali Kota Pasuruan Dukung Penuh Bromo Kom 2026, Sebut Jadi Event Sepeda Bergengsi
BACA JUGA:Tunjang Wisata Bromo, Khofifah Resmikan Penataan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) Sepanjang 13 Km
Namun, saya tidak benar-benar melongok ke bawah. Sepanjang menyusuri jembatan, saya menebarkan pandangan ke area yang eye-level. Jika tidak ke samping, pandangan saya hanya ke atas. Hehehe…
Ketika rasa percaya diri saya kian tumbuh, saya melirik juga ke bawah. Sekejap saja. Tidak lama-lama. Dalam hitungan detik, saya bisa menangkap gambaran aneka vegetasi.
Dari yang awalnya tampak sangat dekat dengan jembatan kaca, pucuk-pucuk pepohonan itu kemudian makin jauh seiring makin mantapnya tapak-tapak kaki saya di atas jembatan.
Jembatan itu bagai mengantarkan manusia untuk menyatu alam. Ada titik yang membuat kami merasa sangat kecil di tengah kepungan bukit-bukit terjal Seruni, Kingkong, Prau, dan Penanjakan.
BACA JUGA:Sarasehan Ekonomi Hijau: Masyarakat Ngadirejo Pimpin Konservasi Bromo untuk Kuliahkan Anak Cucunya
BACA JUGA:Banjir di Pasuruan, Masyarakat Sindir Rusaknya Lereng Gunung Bromo, Welirang, dan Arjuno
Sungguh indah. Sungguh membahagiakan! Begitulah kisah pengingkaran janji saya.
Lain kali, jangan gampang mengucap janji ya, Yoni! Supaya tidak menyesal saat sengaja mengingkarinya. (*)
*) Anggota DPC HPI Surabaya