Era Generative AI, Kuliah Bahasa Indonesia Justru Krusial!

Jumat 10-07-2026,17:46 WIB
Oleh: Felicitas Mega Maharani*

Di kelas itu, mahasiswa dilatih untuk membedah teks, mendeteksi kecacatan logika (logical fallacy), dan melakukan sintesis pemikiran secara jujur.

Kita diajarkan bagaimana cara melakukan sitasi yang benar, menyusun daftar pustaka yang valid, dan menghargai orisinalitas ide.

Bahasa Indonesia yang diajarkan di kampus adalah instrumen untuk menegakkan integritas moral mahasiswa. Terlebih di tengah badai disrupsi informasi.

BACA JUGA:7 Ucapan Imlek Bahasa Indonesia

BACA JUGA:Francisco Rivera Makin Klop dengan Persebaya, Ambil Kursus Bahasa Indonesia

Itu untuk memastikan bahwa gelar sarjana yang nantinya kita sandang bukan hasil manipulasi algoritma.

Terakhir, kita harus melihat aspek itu dari sudut pandang identitas dan budaya. Mayoritas teknologi AI sekarang dilatih menggunakan data internet dunia. Yang isinya adalah Bahasa Inggris.

Akibatnya, saat teks AI memproduksi hasil dalam bahasa Indonesia, sering kali struktur berpikir dan logikanya terasa sangat kaku, aneh, dan kebarat-baratan.

AI kerap gagal menangkap nuansa kultural, metafora lokal, idiom, serta rasa bahasa yang hidup di tengah masyarakat kita.

BACA JUGA:Mengembalikan Naluri Berbahasa Indonesia

BACA JUGA:Bulan Bahasa 2024 SMA Santo Carolus Surabaya, Cinta Bahasa Indonesia Lestarikan Budaya Daerah

Jika kampus mengabaikan pengajaran bahasa nasional, kita akan menyaksikan bahasa Indonesia mengalami penyusutan nilai.

Akibatnya, Bahasa Indonesia menjadi sekadar bahasa terjemahan mesin. Kering dan tercerabut dari akarnya.

Sebagai mahasiswa, kita memiliki tanggung jawab moral. Demi menjaga agar bahasa kita tetap adaptif dengan teknologi. Tanpa harus kehilangan jiwa dan identitas aslinya.

Kesimpulannya, era Generative AI bukanlah lonceng kematian bagi kuliah Bahasa Indonesia di perguruan tinggi.

BACA JUGA:50 Ucapan Happy Halloween 2024 dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Untuk Media Sosial

Kategori :