Eropa terpecah. Prancis dan Jerman ingin melindungi bisnis mereka di Iran. Inggris mengikuti AS. Uni Eropa tidak punya suara bulat. Trump melihat perpecahan itu dan berkata, ”saya tidak perlu izin dari kalian.”
BACA JUGA:Paus vs Trump, Ketika Suara Damai Dibungkam Kekuasaan
BACA JUGA:Sindiran Cerdas Iran Mematahkan Ancaman Trump
Negara-negara Teluk diam. Arab Saudi, UEA, Qatar, Oman, semuanya bungkam. Mereka takut kepada Iran. Tapi, mereka lebih takut kepada AS. Mereka melihat Iran dihajar. Mereka bergumam, ”lebih baik kami tidak ikut-ikutan.”
Ini adalah konstelasi yang jarang terjadi. Semua pihak yang bisa membantu Iran sedang tidak bisa bergerak. Iran sendirian. Trump menyerang di saat yang tepat.
Permainan di Dalam Permainan
Di tengah semua ini, ada aktor lain: Israel.
Trump mengatakan di KTT NATO Ankara bahwa Israel akan menarik pasukannya dari Lebanon Selatan. Netanyahu dan Menteri Pertahanan Katz langsung membantah. Katz berkata dengan tegas, ”kami masuk Lebanon tanpa izin siapa pun. Kami tinggal di Lebanon tanpa izin siapa pun.” Ia mengatakan, Israel akan tetap tinggal sampai Hizbullah dilucuti.
Itu adalah pertengkaran publik antara sekutu dekat. Trump ingin menunjukkan bahwa ia bisa mengendalikan Israel. Netanyahu ingin menunjukkan bahwa Israel adalah negara berdaulat yang tidak bisa diperintah siapa pun.
Tapi, di balik pertengkaran tersebut, ada realitas yang lebih keras. Israel terus menekan Hizbullah di Lebanon. Israel juga terus menekan Hamas di Gaza. Di Suriah, pasukan Israel melakukan infiltrasi dan patroli di Provinsi Quneitra. Bahkan, sempat mendirikan pos pemeriksaan sementara.
Ini adalah perang proksi yang lebih luas. Iran adalah porosnya. Hizbullah di Lebanon. Hamas di Gaza. Houthi di Yaman. Semua adalah mata rantai yang sama. Dan, Trump, dengan menyerang Iran, sedang memukul pusat dari jaring laba-laba itu.
Permainan Belum Berakhir
Saat rudal masih beterbangan, saat Trump masih tersenyum di Ankara, saat Netanyahu masih membantah, dan saat anak-anak di Gaza masih menangis, satu hal yang pasti: permainan belum berakhir.
Trump tidak akan berhenti. Ia akan terus menekan. Ia akan terus memaksa. Sebab, ia percaya bahwa inilah satu-satunya cara untuk mendapatkan kesepakatan yang ia inginkan.
Dunia ini aneh. Ada yang ribut di depan kamera. Ada yang diam-diam menghitung keuntungan. Ada yang menangis di tenda pengungsi. Tapi, di balik semua itu, ada logika angka dan perhitungan yang matang.
Kita di Indonesia tidak bisa menghentikan permainan tersebut. Tapi, kita bisa memahaminya. Kita bisa belajar dari setiap langkah yang diambil Trump. Kita bisa melihat bahwa dalam geopolitik, tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua ada alasannya. Semua ada yang mengatur. Semua pun ada harga yang harus dibayar.