Fenomena tersebut kini hadir dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Teknologi kecerdasan buatan berkembang lebih cepat daripada etika yang mengaturnya. Media sosial membentuk kesadaran kolektif dengan kecepatan yang melampaui kemampuan refleksi masyarakat. Birokrasi tumbuh semakin kompleks sehingga manusia sering kali harus menyesuaikan diri terhadap sistem yang semula diciptakannya sendiri. Perekonomian global menghasilkan kemajuan, tetapi sekaligus menciptakan bentuk-bentuk ketimpangan baru.
Semuanya bergerak. Semuanya berkembang. Semuanya semakin cepat.
Namun, semuanya juga semakin ngglundung.
Dalam keadaan seperti itu, institusi perlahan berisiko kehilangan tujuan awal keberadaannya. Pendidikan dapat berubah menjadi sekadar pengelolaan indikator akademik. Pelayanan keagamaan dapat lebih sibuk mengelola organisasi daripada menghadirkan belas kasih. Politik dapat lebih terfokus pada efektivitas kekuasaan daripada pembentukan peradaban. Bahkan teknologi yang diciptakan untuk membantu manusia dapat berbalik mendikte cara manusia berpikir dan bertindak.
Max Weber pernah mengingatkan bahaya "sangkar besi rasionalitas" (iron cage), yaitu ketika manusia terperangkap dalam sistem rasional yang justru menghilangkan kebebasan dan makna. Kritik Weber tersebut tampaknya menemukan bentuk baru dalam masyarakat digital dewasa ini. Rasionalitas berkembang menjadi algoritma. Efisiensi berubah menjadi tujuan. Manusia perlahan direduksi menjadi data.
Di tengah situasi tersebut, ensiklik Magnifica Humanitas dari Pope Leo XIV menghadirkan refleksi yang penting. Dokumen tersebut tidak menolak kemajuan teknologi ataupun modernitas. Sebaliknya, Paus mengingatkan bahwa seluruh sistem sosial hanya memperoleh legitimasi moral apabila tetap melayani martabat manusia. Ketika manusia direduksi menjadi angka, data, atau instrumen produksi, maka modernitas kehilangan jiwanya.
Refleksi tersebut sesungguhnya melampaui persoalan kecerdasan buatan. Ia merupakan kritik terhadap seluruh bentuk peradaban yang membiarkan sarana berubah menjadi tujuan. Negara, pasar, pendidikan, agama, birokrasi, bahkan teknologi tidak pernah menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Seluruhnya hanyalah instrumen bagi pengembangan manusia.
Di sinilah ngglundung menawarkan perspektif yang menarik. Ia bukan sekadar istilah budaya Jawa, melainkan sebuah kategori reflektif untuk membaca masyarakat yang kehilangan kemampuan mengendalikan arah geraknya sendiri. Modernitas tidak berhenti. Ia terus menggelinding dengan kekuatan yang semakin besar. Tantangan terbesar bukan lagi bagaimana mempercepat laju perubahan, melainkan bagaimana mengembalikan orientasi moral yang memberi arah terhadap perubahan itu.
Peradaban tidak diukur dari seberapa cepat ia bergerak, melainkan dari seberapa jelas ia mengetahui tujuan perjalanannya. Sebab, ketika orientasi hilang, kecepatan justru berubah menjadi ancaman.
Mungkin, itulah makna terdalam dari kata ngglundung. Ia mengingatkan bahwa yang paling berbahaya bukanlah masyarakat yang berhenti bergerak, melainkan masyarakat yang terus bergerak tanpa lagi mengetahui ke mana ia sedang menuju. (*)
*) Ignatius Rys Dedy Ariprastowo, S.Sos, M.Si, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Pemerhati masalah sosial dan aktivis kegiatan sosial kemasyarakatan serta pengurus gereja Katolik paroki Keuskupan Surabaya.