AADC mengajarkan kita bahwa suasana bisa menggantikan makna. Bahwa lanskap bisa menghadirkan sesuatu yang lebih dalam dari makna yang sebenarnya.
Dan kita sebagai penonton langsung mempercayainya dengan sukarela.
BACA JUGA:Tujuh Buku Puisi Esai Denny JA dalam Heptalogi Rekam Sejarah Dunia
BACA JUGA:7 Puisi Hari Guru Nasional 2024 yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna
Ketika Puisi menjadi Efek Samping
Fenomena yang terasa janggal terjadi di luar layar. Buku berjudul Tidak Ada New York Hari Ini menjadi laris di pasaran.
Tetapi mari jujur, apakah pembeli benar-benar ingin membeli atau ingin kembali ke perasaan tertentu yang dibawa oleh buku itu?
Puisi itu sebenarnya tidak pernah berteriak. Tapi dia berbisik. Tentang kehilangan, tentang jarak, tentang hal-hal yang tidak pernah selesai.
Dalam film, bisikan puisi itu diperjelas, diperbesar, bahkan diarahkan. Penonton tidak bebas memaknai puisi.Tetapi diberi cara untuk merasakan.
Puisi pada titik itu sudah tidak otonom lagi. Melainkan memiliki bayangan visual yang sulit dilepaskan.
Pada Akhirnya: Siapa yang berkuasa?
Kita cenderung berpikir bahwa sastra jauh lebih tinggi daripada film. Bahwa film hanyalah sebuah turunan.
Sedangkan semesta AADC melunturkan semua itu. Pelan. Tapi pasti. Mulai dari 2002, 2016, dan 2025. Terlihat bahwa film tidak sekadar megadaptasi.
Melainkan mengarahkan dan membentuk selera. Dia bahkan menciptakan kebutuhan untuk kembali membaca puisi.
BACA JUGA:5 Puisi Karya Joko Pinurbo yang Penuh Makna