Ada Apa dengan Cinta?: Adaptasi yang Mengubah Cara Kita Mencintai Puisi
Adegan Rangga dan Cinta dalam AADC.-@pertemananbaperaadc-Instagram
MARI kita sejenak memikirkan jawaban atas pertanyaan: berapa banyak masyarakat yang membeli buku puisi saat ini?
Jawabnya pasti tidak banyak. Terlebih lagi saat ini, kita berada di dunia yang akrab dengan media sosial.
Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah kita benar-benar menyukai puisi, atau menyukai perasaan yang ditimbulkan oleh visualisasi puisi dalam film?
Bisa jadi jawabannya beragam. Pertanyaan itu pun menjadi terasa lebih rumit. Sampai kita melihat apa yang terjadi dalam rangkaian film Ada Apa dengan Cinta? (AADC) pertama di tahun 2002.
BACA JUGA:Keseruan Teater AADC versi School Production Ciputra 2023
Lalu AADC kedua di tahun 2016 dan Rangga Cinta pada 2025. Tiga film dalam dua dekade. Dengan satu pola yang sama tentang puisi:
Dia tidak pernah benar-benar ditampilkan sebagai puisi. Tetapi disamarkan.
Penyelundupan Puisi ke dalam Film
Di film pertama, puisi Sjuman Djaya ternyata bekerja diam-diam. Dia tidak mendominasi. Tetapi membentuk suatu atmosfer.
Tokoh Rangga bukan sekadar karakter. Melainkan dia adalah cara puisi hadir tanpa harus disebut sebagai puisi.
BACA JUGA:Kumpulan kata-kata mutiara Chairil Anwar untuk status WA hari puisi nasional
BACA JUGA:Wayang Koran Bekas, Ecoprint, dan Puisi Bernuansa IWD 2026 dalam Mbangunredjo Art Festival
Jika diringkas dalam nada yang paling sederhana, puisinya bergerak di wilayah seperti ini:
sunyi yang tidak benar-benar kosong
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: