Ada Apa dengan Cinta?: Adaptasi yang Mengubah Cara Kita Mencintai Puisi

Ada Apa dengan Cinta?: Adaptasi yang Mengubah Cara Kita Mencintai Puisi

Adegan Rangga dan Cinta dalam AADC.-@pertemananbaperaadc-Instagram

dan perasaan yang terlalu dalam untuk dijelaskan

Tidak ada larik yang benar-benar viral. Tidak ada kutipan yang dihafal oleh massa. Tetapi justru di situlah kekuatannya.

Puisi Sjuman tidak ingin diingat. Dia ingin dirasakan. Dan AADC menerjemahkan rasa itu menjadi gambar.

BACA JUGA:Lahirkan Genre Puisi Esai, Denny JA Raih BRICS Award for Literary Innovation

BACA JUGA:Raisa Anggiani Gelar Tur Album Kepada Yang Terhormat di Surabaya, Maknai Cinta Lewat Lagu dan Puisi

Melalui tatapan yang terlalu lama, dialog yang terputus, dan kehadiran tokoh Rangga yang terasa setengah jauh.

Lalu energi itu menemukan bentuk yang lebih tegas dalam bayangan puisi Chairil Anwar:

aku ini binatang jalang

dari kumpulannya terbuang

Jika Sjuman adalah sunyi, maka Chairil adalah ledakan. Dan tokoh Rangga berdiri di antara keduanya.

BACA JUGA:Genap 17 Tahun, Elena Hendropurnomo Luncurkan Buku Kumpulan Puisi Citrus Society

BACA JUGA:Begok Oner di ARTJOG 2025: Puisi dalam Reruntuhan, Cahaya dari Ingatan

Ia tenang di permukaan. Tapi menyimpan intensitas yang tidak pernah jinak. Kemudian masuk ke AADC 2, arah energi itu berubah lagi.

Aan Mansyur tidak membawa sunyi atau ledakan. Tetapi sesuatu yang lebih akrab bagi generasi sekarang.

Yaitu kehilangan yang tenang dan jarak yang tidak dramatis tetapi menetap. Nuansa puisinya bisa ditangkap dalam perasaan seperti ini:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: