Ada Apa dengan Cinta?: Adaptasi yang Mengubah Cara Kita Mencintai Puisi

Ada Apa dengan Cinta?: Adaptasi yang Mengubah Cara Kita Mencintai Puisi

Adegan Rangga dan Cinta dalam AADC.-@pertemananbaperaadc-Instagram

kota tetap ada

tetapi maknanya pergi bersama seseorang

BACA JUGA:Eksotika Bromo 2025 Resmi Dibuka, Olivia Zalianty Bacakan Puisi Kidung Tengger

BACA JUGA:6 Puisi Hari Kartini 2025 yang Menginspirasi untuk Caption Media Sosial dan Tugas Sekolah

Apabila diringkas sebagai pola, Sjuman Djaya menghadirkan puisi sebagai atmosfer sunyi. Lalu Chairil Anwar menghadirkan puisi sebagai intensitas identitas.

Dan Aan Mansyur menghadirkan puisi sebagai nostalgia serta kehilangan modern. Dengan pola itu, terlihat bahwa adaptasi dalam semesta AADC tidak bergerak dari satu teks ke teks yang lain.

Tetapi dari satu rezim rasa ke rezim rasa berikutnya. Dari sunyi menuju intensitas. Kemudian nostalgia.

Dalam hal itu AADC mengadaptasi ketiganya bukan sebagai teks. Melainkan sebagai sebuah pengalaman. 

BACA JUGA:Reuni Bareng A. Azis dalam Antologi Puisi Eks Wartawan Surabaya Post

BACA JUGA:Restoran Suparnin di Nansha dan Menu Lokal Istimewa: Puisi dalam Bentuk Kuliner

Dari Adaptasi ke Reproduksi

Masuk ke dalam film Rangga Cinta, situasinya menjadi berubah. Bukan lagi soal sekuel. Melainkan sebuah reproduksi.

Kisah yang sama dihadirkan kembali untuk generasi yang berbeda. Di situ yang diadaptasi bukan hanya cerita. Tetapi juga cara merasakan cerita itu.

Hal yang direproduksi adalah pengalaman emosionalnya. Dari perspektif Linda Hutcheon yang diterapkan dalam kasus AADC, artinya adaptasi telah bergeser.

Dari teks ke pengalaman dan dari cerita ke sensasi. Itu menunjukkan bahwa semesta AADC bukanlah nostalgia semata, melainkan sebuah rekayasa memori. 

BACA JUGA:Peta Sejarah Diskriminasi Sosial di Indonesia Terekam dalam 8 Puisi Esai Keluaran Penerbit CBI

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: