Sebagian besar anggota bangsa tidak pernah saling mengenal, tetapi mereka membayangkan diri sebagai bagian dari komunitas yang sama. Kesadaran tersebut dibangun melalui simbol, cerita, media, dan pengalaman kolektif.
BACA JUGA:Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Nasionalisme yang Memberdayakan Sumber Pangan Lokal
BACA JUGA:Peran Media Digital dalam Membangun Rasa Nasionalisme dan Bela Negara
Piala Dunia merupakan salah satu mekanisme paling efektif untuk memproduksi pengalaman kolektif semacam itu. Ketika lagu kebangsaan dinyanyikan sebelum pertandingan dimulai, ketika bendera dikibarkan di stadion, dan ketika jutaan orang menyaksikan pertandingan yang sama secara serentak, komunitas kebangsaan sedang dibayangkan kembali.
Namun, ada perkembangan yang mungkin tidak sepenuhnya dibayangkan Anderson.
Globalisasi media telah mengubah cara nasionalisme dihayati. Jika pada masa lalu nasionalisme terutama tumbuh dalam batas-batas negara, kini ia bergerak melampaui batas geografis. Seorang warga Indonesia dapat merasakan keterikatan emosional dengan Argentina tanpa harus menjadi orang Argentina.
Ia dapat mengagumi Brasil tanpa pernah mengunjungi Rio de Janeiro. Bahkan, ia dapat memahami perjalanan karier Lionel Messi lebih baik daripada sejarah politik negara yang didukungnya.
Fenomena itu menunjukkan bahwa globalisasi tidak menghapus nasionalisme. Yang berubah adalah medan tempat nasionalisme bekerja.
Nasionalisme abad ke-20 banyak dibangun oleh sekolah, negara, dan media nasional. Nasionalisme abad ke-21 makin banyak dipengaruhi media digital, budaya populer, dan olahraga global.
Identitas kolektif tidak lagi sepenuhnya diwariskan dari atas, tetapi juga dipilih, dikonsumsi, dan dihayati melalui pengalaman sehari-hari.
Karena itu, fanatisme masyarakat Indonesia terhadap berbagai tim nasional sebenarnya tidak menunjukkan melemahnya nasionalisme Indonesia. Sebaliknya, fenomena tersebut memperlihatkan bahwa manusia modern mampu hidup dengan identitas yang berlapis.
Seseorang dapat menjadi warga negara Indonesia yang bangga terhadap Merah Putih sekaligus menjadi pendukung fanatik Argentina atau Inggris tanpa merasa mengalami pertentangan identitas.
Dalam konteks ini, sepak bola menawarkan pelajaran penting. Ia menunjukkan bahwa rasa memiliki tidak selalu lahir dari kesamaan darah, bahasa, atau wilayah. Rasa memiliki juga dapat tumbuh dari cerita yang dibagikan bersama, simbol yang dikagumi, dan pengalaman emosional yang dirasakan secara kolektif.
Tidak banyak institusi modern yang mampu mengumpulkan miliaran manusia pada momen yang sama. Tidak banyak peristiwa yang mampu membuat orang-orang yang berbeda agama, ras, bahasa, dan kewarganegaraan merasakan harapan, ketegangan, dan kegembiraan yang serupa dalam waktu yang bersamaan.
Piala Dunia melakukan semua itu melalui sesuatu yang tampak sederhana: sebuah pertandingan sepak bola.
Mungkin karena itulah sepak bola selalu lebih besar daripada olahraga itu sendiri. Di lapangan hijau, kita memang menyaksikan sebelas pemain melawan sebelas pemain.