Masyarakat kita pemarah. Tawuran di Menteng, Jakarta Pusat, Minggu, 26 Juli 2026, menewaskan seorang pemuda, gegara beli nasi uduk. Lain lagi, anggota TNI-AD Arif Budi tewas dikeroyok di Tangerang karena beli sate taican. Di Bali pria maling ayam tewas karena dimassa.
TIGA peristiwa di atas tidak saling berhubungan. Para pelaku dan korban di tiga tempat itu beda. Motif pun beda. Namun, semuanya disatukan dengan satu hal: problem sepele berakibat pembunuhan.
Temperamental. Itulah sebutan masyarakat kita sekarang. Di mana pun. Sedikit-sedikit marah. Perkara sepele, bahkan sangat sepele, bisa berakhir pembunuhan. Mengapa begitu? Sakit apa masyarakat kita?
Dimulai kasus terbaru. Minggu pagi, 26 Juli 2026, langit Jakarta cerah. Sekitar pukul 06.00 WIB, di Jalan Tambak I, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, beberapa orang berjualan makanan. Di antaranya, Rusdi, 50, yang berjualan nasi uduk di gerobak dorong. Pembelinya antre.
Seorang pemuda (identitasnya masih diteliti polisi) ikut antre. Ia belum terlayani. Tak lama, ia marah-marah ke penjual nasi. Sambil marah, ia pergi menuju motornya. Sambil naik motor, belum berangkat, ia menggeber-geber handel gas.
BACA JUGA:Remaja Bunuh Remaja di Kampung Gajah, Bandung: Motif Sangat Sepele
BACA JUGA:Motif Sepele, Argiyan Bunuh Kayla
Karena berisik, para pemuda warga sekitar mendatangi pemuda bermotor. Lalu, si pemotor pergi dengan motornya.
Dua-tiga jam kemudian si pemotor balik ke situ. Kali ini ia bersama puluhan temannya, semuanya naik motor. Suasana jadi tegang. Gerombolan pemuda tersebut lalu membentak Rusdi si penjual nasi. Rusdi takut.
Para pemuda warga situ menyaksikan saat gerombolan pemuda pendatang merusak gerobak Rusdi. Kaca gerobak dipecah. Warga diam karena jumlah pendatang lebih banyak.
Tidak terlalu lama, tahu-tahu warga berdatangan mendekati area panas itu. Dua kelompok massa saling pandang. Dalam sekejap mereka berkelahi. Tawuran.
Kasat Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra kepada wartawan, Minggu, 26 Juli 2026, mengatakan, saat tim polisi tiba di lokasi, kondisi tawuran sudah seru.
Roby: ”Tim kami berusaha melerai, tetapi jumlah massa yang terlibat terlalu banyak. Sulit melerai. Tapi, kami terus berusaha melerai.”
BACA JUGA:Motif Sepele Penyebab Pembunuhan di Cimahi: Pelaku Terlalu Marah
BACA JUGA:Pemuda di Yogyakarta Dikeroyok dalam Empat Sesi: Pembunuhan Motif Sepele