HARIAN DISWAY – Red Bull Racing memang belum kembali menjadi kekuatan dominan Formula 1 musim 2026. Hingga jeda musim panas, tim asal Milton Keynes itu masih tertahan di peringkat keenam klasemen konstruktor dengan koleksi 177 poin dan baru mengamankan empat podium sepanjang 11 seri pertama.
Meski demikian, angka tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan perkembangan performa RB22. Berdasarkan data Paceteq, Red Bull berhasil memangkas ketertinggalan hampir satu detik per putaran dibanding tim-tim terdepan. Pada GP Australia dan GP China, mereka sempat tertinggal hingga 1,3 detik per lap, bahkan kecepatannya lebih dekat dengan Haas dan Alpine. Kini, selisih itu menyusut menjadi sekitar dua hingga tiga persepuluh detik.
Peningkatan tersebut lahir berkat dua paket pengembangan besar yang diperkenalkan di GP Miami dan GP Austria. Red Bull merombak konsep aerodinamika mobil, menghadirkan desain sidepod baru, sekaligus memangkas bobot RB22 yang sebelumnya menjadi salah satu kelemahan utamanya.
BACA JUGA:Bursa Transfer F1: Williams Tikung Audi dan Alpine Demi Carlos Sainz
BACA JUGA:Apesnya Lewis Hamilton di F1 GP Hungaria 2026: Kena Penalti Pit Lane Usai Strategi Ferrari Gagal
Laurent Mekies menghadapi tantangan besar di paruh kedua Formula 1 2026. Team Principal Red Bull itu mengakui laju pengembangan RB22 tak bisa lagi seagresif sebelumnya karena mulai terbentur aturan budget cap. Kini, setiap upgrade harus dihitung matang demi menghindari budget cap-f1.com
Budget Cap Mulai Membatasi Ruang Gerak Red Bull
Kemajuan besar itu ternyata harus dibayar mahal. Team Principal Red Bull, Laurent Mekies, mengakui timnya telah menggelontorkan sumber daya dalam jumlah besar hanya untuk mengejar ketertinggalan sejak awal musim. Karena itu, ia menilai mustahil mempertahankan ritme pengembangan seperti yang dilakukan pada paruh pertama musim.
“Kami membawa pengembangan dalam jumlah sangat besar sejak balapan pertama untuk memperbaiki defisit yang kami miliki. Sulit membayangkan kami bisa terus melakukannya dengan ritme yang sama,” ujar Mekies.
Pengakuan tersebut berkaitan langsung dengan regulasi budget cap Formula 1 yang pada musim ini dibatasi sekitar US$215 juta. Setiap pembaruan yang dibawa ke lintasan harus dihitung secara cermat karena seluruh biaya riset, produksi komponen, hingga pengembangan mobil masuk dalam batas anggaran tersebut.
Meski sudah memangkas sebagian besar ketertinggalan, Mekies mengakui dua hingga tiga persepuluh detik terakhir justru menjadi bagian tersulit untuk ditemukan. Terlebih, para rival juga terus mengembangkan mobil mereka sepanjang musim.
BACA JUGA:Hasil F1 GP Hungaria 2026: Norris Menang di Balapan Penuh Drama, Piastri DNF, Verstappen Podium
BACA JUGA:Masalah Start George Russell di GP Hungaria: Menyingkap Rumitnya Mesin F1 2026
Tak Mau Mengulang Kesalahan Musim Lalu
Selain terbentur budget cap, Red Bull kini juga menghadapi dilema lain, yakni menentukan kapan harus menghentikan pengembangan RB22 dan mulai memusatkan perhatian pada mobil musim depan.
Pengalaman musim lalu menjadi pelajaran berharga. Saat itu Red Bull terus mengalokasikan sumber daya untuk mengembangkan mobil demi menjaga peluang Max Verstappen dalam perebutan gelar juara dunia. Keputusan tersebut belakangan diakui berdampak pada lambatnya persiapan mobil musim 2026.
Karena itu, Mekies memastikan Red Bull akan mengambil pendekatan berbeda kali ini.
“Akan ada saatnya kami harus menentukan keseimbangan antara pengembangan mobil musim ini dan mobil musim depan,” katanya.