Merengut di Ruang Oval

Jumat 31-07-2026,21:33 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Editor : Yusuf Ridho

Mereka akan terus menguji batas. Mungkin dengan rudal lagi. Mungkin dengan blokade yang lebih ketat. Mungkin dengan provokasi lain.

Mereka tidak akan menyerang langsung. Tapi, mereka akan membuat semua orang gelisah. Sebab, bagi Iran, kekacauan adalah senjata.

Keempat: Netanyahu akan makin kikuk.

Di Israel, Netanyahu menghadapi pemilu 27 Oktober 2026. Popularitasnya turun. Publik lelah perang. Mereka lelah dengan korban. Mereka lelah dengan ketidakpastian.

AS tidak lagi sepenuhnya mendukungnya. Sekutu di kawasan mulai ragu. Lawan politik di dalam negeri makin vokal.

Netanyahu butuh kemenangan. Tapi, kemenangan tidak kunjung datang. Jika ia kalah, kariernya berakhir. Jika menang, ia tetap harus menghadapi realitas bahwa ia kehilangan kepercayaan di mata dunia.

Kelima: harga minyak akan terus terbang.

Ini yang paling pasti.

Iran terus memblokade Selat Hormuz. Harga minyak terus naik. Subsidi BBM Indonesia akan membengkak. APBN akan terganggu. Harga pangan akan naik. Rakyat akan susah.

Saya tidak bisa menghentikan perang di Timur Tengah. Anda juga tidak bisa. Pemerintah Indonesia pun tidak bisa.

Yang bisa kita lakukan hanya bersiap. Menghitung skenario terburuk. Menghemat energi. Mencari sumber alternatif. Melindungi rakyat dari lonjakan harga.

Sebab, perang di Timur Tengah bukanlah tontonan. Ia adalah tontonan yang kita bayar. Lewat harga BBM. Lewat harga pangan. Lewat inflasi.

Hindari Amblas

Pertemuan sudah usai. Netanyahu pulang. Trump kembali ke kampanye. Tapi, tarian belum berakhir.

Trump akan terus berkampanye dengan janji ”America First”. Netanyahu akan terus berjuang mempertahankan kursinya. Iran akan terus menguji batas. Harga minyak akan terus naik.

Dan, kita di Indonesia? Kita akan terus merasakan getaran dari setiap keputusan yang dibuat di Ruang Oval.

Kategori :