Mahasiswi Unram Dirampok-Dibunuh di Kamar Kos: Mestinya Korban Diam

Sabtu 01-08-2026,20:36 WIB
Oleh: Djono W. Oesman

Becker pakar keamanan terkemuka Amerika Serikat (AS). Ia pendiri Gavin de Becker & Associates, yang melindungi tokoh publik dengan kekayaan tinggi.

Buku The Gift of Fear salah satu rujukan terkenal global dalam pencegahan kejahatan kekerasan, termasuk perampokan dan penerobosan rumah.

Teori inti De Becker, manusia sebenarnya memiliki sistem intuisi alami yang sangat tajam. Itu hasil evolusi jutaan tahun untuk bertahan hidup. 

Ketika seseorang merasa ada yang tidak beres di sekitar rumahnya (misalnya, mendengar bunyi aneh di malam hari atau melihat gerak-gerik mencurigakan di luar rumah), itu bukanlah rasa takut yang tidak berdasar. Itu adalah pemrosesan data bawah sadar atas sinyal-sinyal bahaya yang ditangkap indra manusia. 

Orang menjadi korban kejahatan karena menolak atau meremehkan intuisi tersebut, demi bersikap sopan atau khawatir diri mereka dianggap terlalu paranoia.

Riset De Becker menunjukkan bahwa pelaku kejahatan kekerasan, termasuk pelaku home invasion, hampir selalu menunjukkan indikator pra-kejadian sebelum melakukan kejahatan. 

Pelaku biasanya mengintai, menguji kerapuhan target, memanfaatkan strategi manipulasi psikologis untuk mendekati korban. Caranya beragam. Bisa, ia berpura-pura butuh bantuan. 

Dengan memahami pola-pola itu, masyarakat dapat mengenali bahaya, jauh sebelum penjahat masuk ke ruang pribadi korban.

De Becker menemukan satu respons psikologis korban yang paling berbahaya: penyangkalan (denial). Misalnya, ketika mendengar pintu didobrak atau ada orang asing di dalam rumah, otak manusia cenderung mengalami freeze dan mencoba merasionalkan situasi: ”Ah, paling itu cuma angin”. Atau, ”mungkin itu anggota keluarga”. 

Penyangkalan itu membuang detik-detik emas yang seharusnya digunakan untuk mengunci diri di ruang aman. Atau, melarikan diri atau bersiap membela diri.

De Becker membedakan secara tegas antara anxiety (kekhawatiran atas hal yang belum tentu terjadi) dan real fear (rasa takut nyata saat bahaya hadir di depan mata). 

Rasa takut yang nyata adalah respons biologis yang berguna untuk memicu tindakan bertahan hidup instan. Itu anugerah Allah agar manusia selamat dari suatu bahaya.

Dalam menghadapi perampok yang panik, pemahaman itu membantu korban berpikir jernih: tidak melakukan tindakan provokatif spontan. Misalnya, berteriak histeris saat berada di jarak dekat dengan perampok.

Sebaiknya, kita mengambil tindakan taktis yang terukur berdasar penilaian situasi secara cepat.

Di kasus pembunuhan Nadya, kesalahan utama Nadya adalah berteriak histeris. Itu membikin perampok panik. Sebenarnya, perampok takut warga berdatangan. Perampok dikeroyok warga. Matilah ia.

Namun, hampir semua perempuan jika berada di posisi Nadya pasti akan berteriak. Itu refleks. Karena kaget. Juga takut. Tidak mungkin diam. 

Kategori :